Curhat Guru Pedalaman


GambarDisamping memberikan pemahaman teori dan praktik Kurikulum 2013, aku menyempatkan diri berdialog dengan peserta. Mereka datang dari pelosok Kab. Kutim dengan perjalanan yang penuh perjuangan. Betapa tidak, rata-rata mereka harus menempuh perjalanan selama 15 jam untuk sampai di LPMP Kaltim Samarinda dari tempat tinggalnya. Pasti dari mereka akan terlahir cerita-cerita seru, unik dan inspiratif.

Merantau ke Kab Kutai Timur menjadi pilihannya sejak tamat kuliah di IAIN Banjarmasin. Bu Guru PAI berusia 24 tahunan ini menjadi guru kontrak daerah di SDN 001 Kongbeng sejak setahun yang lalu. Setiap hari dia mengajar sampai jam 12 siang, sorenya mengajar TPA di masjid dekat tempat kostnya.

Alhamdulillah kegiatan keagamaan disini sekarang bisa berjalan dengan baik sekalipun minoritas”, tandas Siti Armaniah. Siswa muslim di sekolahnya sekitar 30 anak, jadi rata 5 anak perkelas, sedangkan jumlah siswa perkelas berkisar 20 – 30 anak.

Siti Armaniah

Cikal bakal TPA itu sendiri berawal dari keterpanggilan Siti untuk mengajar mengaji siswa-siswanya. Siti menggunakan sebagian tempat kost yang disewanya Rp. 250.000,- perbulan untuk pengajian. Seiring dengan selesainya pembangunan masjid dan adanya yayasan yang mengurus, maka TPA itupun dipindahkan ke masjid. Di kampung tempat tugasnya ada sekitar 20 keluarga muslim.

Jalan lumpur, gaji, listrik hingga BBM

Lain lagi cerita bu Isnaniah yang mengajar PAI di SDN 007 Muara Bengkal. Bila ada keperluan di Sangatta (ibukota Kab. Kutim) dia harus menempuh perjalanan selama 10 jam melewati hutan. Bila cuaca sedang bagus perjalananpun lancar. Akan tetapi bila hujan turun diapun harus menginap di tengah perjalanan karena jalan tanah berubah menjadi lumpur. Bila terjebak di tengah hutan maka dia bersama teman semobil harus menginap di mobil sampai keadaan memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan.

“Di kampung saya tidak ada jalan aspal. Kalau hujan jalan menjadi berlumpur,” ujar bu Is.

Untuk mengambil gaji, Muhibuddin (SDN 001 Kaliorang) harus menempuh jarak 8 km dari rumahnya ke kecamatan. Disamping tergantung cuaca, penerimaanpun sudah pasti molor.

“Kami menerima gaji antara tanggal 10 – 15 setiap bulan,” ujarnya.

Listrik (PLN) di daerah ini juga masih menjadi kendala. Menurut bu Is, listrik hanya menyala pada malam hari itupun dijadwal. Mengatasi hal ini penduduk ada yang berinisiatif menggunakan genset pribadi termasuk sekolah.

Gambar “Sekolah kami menggunakan genset untuk memenuhi kebutuhan listrik”, imbuh pak Muhibuddin guru SDN 001 Kaliorang. Itupun belum selesai. Urusan genset terkait dengan bensin. Harga BBM ini sudah diatas Rp. 10.000,-/liter sebelum kenaikan, bahkan pernah mencapai Rp. 25.000,-/liter. Sekarang mencapai Rp. 12.000,-/liter. SPBU terdekat berjarak 5 km dari tempat tinggal pak Muhibuddin. Itupun sering kosong.

Naik pohon

Kurangnya infrastuktur komunikasi berakibat pada sulitnya telepon. Sinyal handphone sering tidak nyambung.

“Kadang kami harus naik pohon supaya bisa telpon. Itupun nggak menjamin langsung nyambung. Malah pulsa kami sudah habis duluan untuk (bilang) ‘halo-halo’ tanpa mendapat informasi apapun. Yang paling untung tukang jualan pulsa..he..he..”, ujar Najimah, guru SDN 002 Muara Wahau sambil tersenyum.

Kesulitan komunikasi ini juga sesekali berdampak pada urusan dinas. Karena menggunakan hp (tetap) lebih praktis dibanding dengan surat, undangan rapat di kecamatan/kabupatenpun sering terhambat. Terkadang undangan sudah terlewat waktu. Masih beruntung jika undangan diterima sehari sebelum acara sehingga yang bersangkutan masih bisa berangkat, sekali lagi dengan catatan kalau cuaca bagus.

Namun ada yang menarik, sekalipun medan dan sarana komunikasi cukup sulit beberapa orang sudah terbiasa bergaul dengan internet melalui smartphone. Pada waktu-waktu tertentu terutama saat cuaca bagus mereka dapat online.

Pengusaha

Upaya untuk mensiasati nafkah keluarga guru-guru cukup beragam. Terutama Bapak-bapak guru, sebagian mempunyai kegiatan produktif selain mengajar. Sebutlah pak Abbas A. Wagho yang mengajar di SDN 005 Kongbeng. Menurut teman-temannya dia mempunyai sebidang kebun kelapa sawit. Saat dikonfirmasi pak Abbas mengangguk sambil tersenyum.

Alhamdulillah ada hasilnya pak. Kegiatan berkebun saya kerjakan diluar jam dinas. Kebetulan di kampung saya ada pabrik pengolahan sawit,” ujar pak Abbas.

Diklat sambil momong

Saat penulis mengawasi jalannya kegiatan terlihat beberapa anak bermain di luar ruang. Pada saat break mereka mendekat ke ibunya masing-masing.

“Di rumah tidak ada yang menjaga, ayahnya sibuk bekerja. Jadi anak saya bawa ke sini sekalian liburan,” demikian ujar Nur Kholifah dari Muara Wahau. Dia mengajak putrinya yang berusia 10 tahun. Pada saat Nur melakukan peer teaching anaknyapun turut memberi support pada ibunya.

Selain Nur Kholifah terdapat beberapa orang lainnya yang membawa anak, bahkan terlihat seorang Bapak suami dari salah seorang peserta menggendong putrinya yang masih bayi.

**

Bagi mereka kondisi ini bukan baru sehari dua hari mereka rasakan melainkan sudah bertahun-tahun. Mereka tidak bisa menghindar dan tidak pula punya kekuatan untuk memperbaikinya. Bagi mereka hal ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehingga bukan lagi sebagai kendala.

Dengan segala keterbatasan yang melingkupi sekolah, mereka berusaha menjalankan tugas sebaik-baiknya, salah satunya masalah buku.

“Di (sekolah) kota (Sangatta) bukunya sudah lecek sementara sampai ke kami masih bagus,” demikian Maslikan (SDN 007 Rantau Pulung) melukiskan keterlambatan pengadaan buku dengan judul yang sama antara sekolahnya dengan sekolah kota.

**

Tingginya semangat peserta mengikuti Diklat membuat penulis terharu. Bagi mereka mengikuti Diklat merupakan hal yang sangat didambakan. Salah seorang peserta mengatakan dia mengikuti diklat terakhir sekitar lima tahun yang lalu. Beberapa orang bahkan baru mengetahui Kurikulum 2013 pada saat Diklat.

**

Kondisi guru-guru di Kab. Kutim tersebut hanya puncak gunung es, di daerah lain masih banyak bahkan mungkin lebih parah dari yang mereka hadapi. Setidaknya hal ini menjadi cermin kita semua bahwa keterbatasan hendaknya menjadi penyemangat untuk terus berkarya. Di sisi lain kelengkapan sarana harus menjadi pemicu untuk jauh lebih berprestasi.

***

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Pendidikan. Bookmark the permalink.

2 Responses to Curhat Guru Pedalaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s