Cambukan yang Menyelamatkan


Jalaluddin RumiCerita ini dikemukakan oleh Jalaludin Rumi, seorang penyair sufi kelahiran Persia yang juga pendiri tarikat Maulawiyah. Pada cerita ini kita diajak menalar betapa kasih sayang tidak selalu diwujudkan dalam bentuk belaian dan sikap lembut.
Syahdan, di sebuah pinggir kampung seorang Pangeran yang sangat terhormat sedang menghirup udara bebas sambil menunggang kudanya. Jauh sudah Pangeran ini berkuda hingga akhirnya menemui seorang pemuda yang sedang tertidur di bawah rindangnya pepohonan. Sekalipun tidur beralaskan rumput pemuda ini tidur dengan pulas dan tidak sadar mulut terbuka.
Tanpa disadarinya seekor ular kecil masuk ke mulut dan tidak tampak lagi. Rupanya kejadian ini dilihat oleh Sang Pangeran, dia berfikir pasti ular ini sudah masuk ke perut pemuda yang sedang pulas tidur itu.
Tak berfikir panjang Sang Pangeran segera merenggut cemeti kuda yang tergantung di sanggurdi dan dipukulkan ke pemuda tadi. Sontak pemuda itu terbangun dan memarahi Sang Pangeran.
“Apa maksud tuan memukul saya!? Apa pula salah saya!!”, teriaknya sambil mengambil sebatang kayu untuk membalas lecutan Sang Pangeran.
Belum sempat tangannya meraih kayu Sang Pangeran mendaratkan kembali cemetinya di badan pemuda, diikuti dengan beberapa kali lecutan berikutnya. Si pemuda menjadi takut dan segera berlari menjauh dari Sang Pangeran.
Pangeran segera memacu kudanya untuk mengejar pemuda itu. Tentu saja kembali si pemuda mendapat jatah lecutan bahkan beberapa kali tersungkur hingga sampailah mereka di kebun apel.
“Ampun tuan, apa salah saya hingga anda memecut saya?!”kuda1
Namun bukannya menjawab, Sang Pangeran kembali memecut pemuda itu sambil menyuruhnya makan apel yang busuk.
“Cepat makan apel busuk itu atau kupecut!”, perintah Sang Pangeran.
Tampak keraguan di wajah pemuda. Siapa pula yang mau makan apel busuk!
Belum sempat menjawab, Sang Pangeran kembali berteriak agar pemuda segera makan apel busuk itu sambil mengayunkan pecutnya.
Dengan sangat terpaksa pemuda itu mulai makan apel busuk yang di beberapa bagian mulai berulat. Rasa jijik menghinggapi si pemuda dan enggan memakannya. Namun kembali Sang Pangeran mengayunkan pecutnya.
Si pemuda mulai mengunyah sambil sesekali berhenti. Akan tetapi setiap kali berhenti berarti satu pukulan cemeti melayang ke punggungnya. Akhirnya habislah lima apel busuk dimakannya.
Tidak lama kemudian si pemuda mulai merasakan mual-mual. Isi perutnya mendesak untuk keluar. Sang Pangeran kembali melecutkan cemetinya ke tubuh pemuda itu. Bersamaan dengan itu keluarlah isi perut pemuda, ada apel busuk berikut ulat-ulatnya. Pemuda itu kaget bukan kepalang saat melihat seekor ular yang sudah mati berada diantara isi perutnya.
Segera pemuda itu bersimpuh di kaki Sang Pangeran.
“Terimakasih Tuan. Tuan telah menyelamatkan hidup saya”.

**

Ya, si pemuda menyadari kalau Sang Pangeran telah menyelamatkan hidupnya. Rupanya deraan cemeti yang dideritanya telah membuat tubuhnya bergerak sedemikian rupa sehingga aktifitas ular di perutnya terhambat. Demikian juga apel busuk yang dimakannya meracuni ular itu sekaligus membuat perutnya mual sehingga isi perutnya keluar termasuk ular itu.
Kasih sayang ada kalanya perlu diwujudkan dengan ucapan manis dan sikap lembut. Tetapi karena sesuatu hal perlu juga diwujudkan dalam bentuk yang lebih keras dan ekstrim. Secara lahir siapa yang berani mengatakan bahwa cambukan yang menyakitkan adalah bentuk kasih sayang dan pertolongan? Apalagi sampai menimbulkan akibat fisik. Hal itu hanya dapat disadari setelah terjadi.

**

Hal ini sering terjadi pada guru yang menghukum muridnya karena suatu kesalahan. Hukuman itu bukan untuk menyakiti tetapi mengingatkan dan menyadarkan siswa untuk tidak mengulangi kesalahan, lebih jauh kepada murid yang lain agar tidak melakukan. Jadi hukuman yang diberikan kepada sedikit orang dapat menyelamatkan lebih banyak orang.

**

Setelah sekian tahun berlalu beberapa murid menyatakan terimakasih bahwa karena pernah dihukum mereka bisa sukses seperti sekarang. Bisa jadi demikian. Namun fenomena sekarang dapat dilihat di berita media beberapa orang guru berurusan dengan pihak berwajib karena dilaporkan orangtua siswa yang tidak terima anaknya dihukum. Kalau hukuman yang diberikan sudah kelewatan bolehlah dilaporkan, tetapi kalau hanya mencukur rambut sampai dilaporkan polisi, wah keterlaluan namanya.
Demikainlah terkadang dibalik sesuatu yang menyakitkan ada pelajaran dan hikmah di belakangnya.

***

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Rupa-rupa. Bookmark the permalink.

One Response to Cambukan yang Menyelamatkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s