Perjalanan


GambarSetahun yang lalu di fb aku membuat catatan “Tonggak ke-44” untuk menggambarkan perjalanan hidupku, sedangkan setahun sebelumnya kugambarkan dalam “Separuh Jalan”. Kali ini kuingin menggambarkan seperti pendaki gunung.

Dalam berbagai literature online tentang pendakian gunung setidaknya ada beberapa hal terkait pendakian, yaitu pendaki itu sendiri, perlengkapan, rute, gunung yang menjadi obyek pendakian dan tidak kalah pentingnya yaitu muthawwif (pembimbing) yang disebut sherpa (di Himalaya).

Kita adalah pendaki itu. Seseorang yang berniat, bercita-cita dan melaksanakan usaha untuk menaklukkan puncak sebuah gunung. Pada saat waktunya tiba untuk melakukan pendakian maka segala perlengkapan kita siapkan, baik persiapan fisik maupun mental. Persiapan fisik meliputi berbagai hal yang terkait kebutuhan manusiawi yang bersifat fisikal seperti, makanan, pakaian, tenda, dll. Sedangkan mental dimulai dari niat atau cita-cita sampai perkiraan tindakan apa yang akan dilakukan saat menghadapi suatu halangan di lapangan nanti.

Agar pendakian berjalan dengan baik kita harus mengenali gunung yang akan didaki. Katakan mulai dari karakter gunung, rute, medan, sampai pada kondisi sosial dan kearifan local di daerah pendakian. Informasi ini bisa diperoleh dari peta, arsip pendakian maupun bertanya kepada pendaki terdahulu.

**

Saat dilahirkan dari rahim ibu adalah saat pendakian dimulai. Rute masih mudah dijalani saat keluar dari rumah bahkan mungkin naik kendaraan menuju titik awal di medan pendakian. Halangan relative belum ditemui, kalaupun ada sifatnya masih ringan dan dapat diselesaikan dengan cepat.

Pendakian dirasakan ketika medan mulai naik, pendaki masuk ke alam yang sesungguhnya. Alam menampakkan sifat aslinya. Rimbunan pepohonan ada di sekitar pendaki. Semak belukar berada paling dekat, sementara pohon-pohon besar berdiri kokoh. Semakin naik ke ketinggian medan makin menantang. Jalan setapak bahkan mungkin jalan yang belum pernah dilewati, binatang buas dan gangguan lain yang mengancam keselamatan pendaki. Cuacapun tidak jarang sangat ekstrim, mudah berubah dan tidak menentu. Kencangnya tiupan angin.

Untuk membantu pendakian dan menjaga stamina, dibuatlah base camp. Di tempat ini pendaki beristirahat dan mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan pendakian esok hari. Tidak lupa evaluasi perjalanan dilakukan. Berbagai kekurangan pada etape sebelumnya diinventarisir dan dicari pemecahannya. Prediksi perjalanan pada etape berikutnya juga dilakukan. Tentang situasi medan, cuaca dan berbagai kemungkinan lain.

Perjalanan terus berlanjut, pendaki bertemu dengan tebing dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Sebuah rintangan menghadang. Akankah dia berhenti? Tentu tidak. Talipun dipasang untuk membantu pendakiannya. Jangkar dilemparkan ke atas tebing sekalipun tidak ada kepastian ada sesuatu yang dapat menahannya. Bila gagal dia masih akan melemparkan jangkar itu. Begitulah yang akan dia lakukan jika menemui medan yang membutuhkan tali untuk membantu perjalanannya.

Di sebuah daerah yang asing seperti ini dia butuh orang lain untuk memberikan bimbingan agar pendakiannya lancar. Dialah sherpa itu. Pada pendakian di Himalaya sherpa merupakan penduduk asli yang disewa untuk memandu perjalanan pendaki. Tugas sherpa yang lain adalah membawa barang-barang perlengkapan pendaki yang beratnya bisa mencapai dua kali berat barang yang dibawa pendaki. Himalaya adalah rumahnya, maka tidak heran daya tahan tubuhnya menyatu dengan alam. Semakin tinggi mencapai puncak, lapisan oksigen makin menipis. Di ketinggian ini pendaki membutuhkan tabung oksigen tapi sherpa cukup kuat tanpa tabung oksigen. Peran sherpa sangat penting, tapi pada saat seorang pendaki diberitakan dapat mencapai puncak Himalaya, nama si sherpa jarang disebut.

**

Puncak adalah tujuan akhir pendakian. Sesaat setelah pendaki menjejakkan kaki di tempat itu benderapun dikibarkan. Rasa bangga dan haru bercampur aduk. Tidak lupa berfoto untuk mengabadikan kegemilangan ini. Tapi akankah pendaki berhenti di puncak ini? Tentu tidak. Pada saatnya dia harus turun karena bukan disana tempat tinggalnya. Di tempat ini tidak lama, hanya perlu untuk menjejakkan kaki, meninggalkan bekas tapak kakinya. Ada bukti yang harus dia bawa pulang dan ditunjukkan kepada keluarga dan sahabatnya bahwa dia pernah mencapai puncak itu.

Diapun turun kembali menuju titik awal keberangkatannya, kembali ke pangkuan keluarganya. Disanalah dia akan disambut dengan suka cita, dielukan dan dibanggakan. Diapun akan bersemangat menceritakan semua hal yang dialami selama pendakian. Bahkan diapun dapat membawa keberuntungan bagi orang-orang di sekelilingnya. Bukan saja keuntungan mendapat cerita tapi mungkin cerita itu dibukukan sehingga ada imbas ekonomis di sana.

Perjalanan menuju puncak menyita tenaga. Demikian juga waktu yang dibutuhkanpun lebih lama. Sebaliknya perjalanan turun relative lebih mudah dan cepat karena medan sudah dikenali.

**

Demikian pula perjalanan hidup, melengkung seperti kurva. Di sebelah kiri merupakan titik awal, semakin ke kanan semakin menanjak. Tibalah pada titik puncak di tengah, dimana dia akan terlihat darimana dan oleh siapa saja, sebaliknya diapun dengan bebas bisa memandang ke segala arah. Bergeser ke kiri perjalanan mulai menurun semakin landai dan sampailah pada titik akhir. Itulah akhir kehidupan perjalanan seseorang.

Derita dan senang akan dialami silih berganti dengan durasi yang tidak sama selama rentang waktu hidup. Sepeti roda terkadang berada di atas kadang di bawah. Silih berganti. Tidak mungkin statis. Kalau statis bukanlah kehidupan, kehidupan harus dinamis, mengalir seperti air. Air yang sehat adalah air yang mengalir. Demikian pula kehidupan yang sehat adalah kehidupan yang dinamis.

Mungkin kita tidak tahu kapan berada di puncak. Yang jelas terasa adalah pada saat mendaki dan menurun. Saat hidup banyak membutuhkan perjuangan itulah saat mendaki. Nah saat menurun dirasakan dengan mulai menurunnya kemampuan…segalanya.

**

Sekali lagi tidak ada yang tahun jatah umur manusia. Jangan risaukan itu. Kita hidup berarti Allah sudah memberi waktu dan kesempatan untuk kita. Jadi jalani saja sesuai dengan rel yang telah dibuatkan untuk kita. Perjuangan yang kita jalani sejatinya adalah proses penempaan kualitas hidup. Semakin banyak berjuang maka semakin matang dan berkualitas. Bukankah pedang yang tajam hasil dari penempaan yang sempurna?

Jangan risau karena anda tidak menjadi apa. Tapi risaulah bila anda tidak berguna bagi orang lain. Tanpa menjadi apa anda dapat bermanfaat bagi sesama. Bagaimana caranya? Berikan sesuatu kepada yang membutuhkan karena memang itulah a dibutuhkannya dan berikan pada saat yang tepat. Orang yang sedang kehausan di padang tandus lebih memilih segelas air dibanding uang seratus ribu rupiah, karena air lebih dia butuhkan.

Seperti diriku yang tak menjadi apa tapi aku bangga dengan predikat itu. Bebas seperti burung terbang kesana-kemari dan memberi apa yang bisa kuberikan kepada keluarga, sahabat dan siapapun yang membutuhkan.

@tonggak ke-45

***

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Rupa-rupa. Bookmark the permalink.

2 Responses to Perjalanan

  1. Yudha Ardiansyach Muchfis says:

    Sungguh rangkaian kata yang bijaksana dari seseorang mulia nan bijaksana yg pernah saya kenal.. terima kasih atas motivasinya pak.. semangat saya kembali memuncak untuk menggapai puncak yg ingin saya takluki.. semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi semua para pembacanya..amien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s