Diskusi dengan Prof. Dr. M. Atwi Suparman, M.Sc.


DSC03509Bilangan hari ke-25 di bulan Maret 2013 menjadi salah satu tanggal yang harus saya ingat sepanjang hidup. Betapa tidak. Sebuah rahmat besar telah menghampiriku melalui seorang teman baik. Semoga apa yang terjadi pada sore tanggal 25 tersebut menjadi awal langkahku melanjutkan studi. Amin.

**

Beberapa hari sebelumnya seorang teman yang sedang menggarap disertasi S3 UNJ menelponku. Awalnya saya tidak tahu apa maksudnya. Akhirnya diapun menjelaskan bahwa saya dipilih untuk ikut menvalidasi instrumen penelitian disertasinya. Untuk itu saya diharapkan datang pada tanggal 25 tersebut di kantor promotornya di kampus Universitas Terbuka (UT) Pondok Cabe, Tangsel. Sebuah lokasi yang sangat kukenal karena beberapa kali ikut kegiatan di SEAMOLEC yang berada di komplek UT. Jarak dari rumahkupun hanya sekitar 9 km. Bercampur rasa heran, sayapun mengiyakan permintaannya. Kenapa heran? Saya hanya berfikir mengapa saya harus bertemu dengan promotornya. Mengapa bukan dia sendiri yang menjelaskan kepadaku. Tapi dalam hati saya berkata bahwa “setiap pertemuan dengan orang baru pasti ada sesuatu yang baru dan bermanfaat”. Di bawah guyuran hujan akupun berangkat naik motor antikku.

**

Kedatanganku dan teman disambut ramah oleh seorang lelaki berambut perak berusia 69 tahun, namun masih tampak tegap. Setelah saya memperkenalkan diri beliau langsung mengajak makan bersama. “Saya telah menunggu kedatangan saudara dari siang dan sengaja belum makan siang. Ayolah kita makan”, demikian ajaknya seraya menunjuk hidangan di meja itu, tiga nasi bungkus dari sebuah rumah makan Padang yang mensponsori acara “Sahur” di sebuah stasiun TV. Terus terang aku dibuat kaget yang kedua kali. Makan siang menjelang sore itupun berlangsung dengan akrab. Beliau sangat familiar, sama sekali tidak menganggapku sebagai orang yang baru dikenal. Sikap beliau ini menjadikan aku rajin bertanya dan menimpali apa yang beliau katakan. Bahkan menjadi sebuah diskusi yang mengasyikkan.

**

Seakan telah membaca pikiranku, beliaupun menjelaskan maksud saya diminta menghadap beliau. Secara gamblang beliau menjelaskan bahwa aku diminta ikut memvalidasi instrumen penelitian disertasi mahasiswanya, yakni temanku itu. Di sinipun terjadi diskusi hangat kami bertiga, karena apa yang beliau jelaskan nyambung dengan kuliah S2ku di bidang penelitian dan evaluasi pendidikan. Sementara itu hawa di luar ruangan tampak dingin karena hujan semakin deras.

**

Penjelasan validasi instrumen itupun selesai sudah. Giliran beliau yang banyak bertanya kepadaku. Dimulai dari profesiku yang sebagai guru agama di SMK, side job sekian tahun menjadi anggota tim pengembang kurikulum di Kemenag (ada SK DIrektur dan Insya Allah sekarang masih), hingga perjalananku ke beberapa daerah mengisi pelatihan. Rupanya kegiatanku menarik perhatiannya karena tiba-tiba beliau mengambil sebuah buku yang ditulisnya berjudul “Desain Instruksional Modern, Panduan Para Pengajar dan Inovator Pendidikan”. Kemudian beliau mengutarakan isi buku tersebut pada tiap babnya secara rinci sebelum memberikan catatan di halaman sampul buku tersebut. Melihat hal ini temanku berbisik, “Kamu beruntung dapat kuliah sore ini sekaligus dapat bukunya. Kami mahasiswanya harus beli. Di Gramedia sering kehabisan stok”, demikian ujarnya. Alamaaakk…akupun kaget yang ketiga kalinya. Benarlah apa yang dikatakan temanku itu. Setelah memberikan catatan :

Untuk Abd Aziz Rofiq

Semoga menjadi arsitek mata pelajaran yang Anda ampu.

25 Maret 2013

Atwi Suparman

buku itupun diberikan sebagai hadiah kepadaku. Akupun kaget untuk keempat kalinya. Subhanallahh…ingin rasanya aku berteriak kegirangan. Beliau masih melanjutkan penjabarannya seputar teknologi pendidikan termasuk aktivitasnya menjadi konsultan di pendidikan SDM perbankan Indonesia. “Dan saya dibayar bagus untuk itu”, demikian tandasnya. Semula aku berfikiran bahwa teknologi pendidikan hanya berkutat pada pengembangan media berbasis teknologi. Ternyata lebih luas berkali-kali lipat dari pemikiranku. Teknologi pendidikan dapat dimulai dari mendesain model pendidikan/pelatihan, merancang materi, bahan ajar, teknik dan teknologi yang dipakai, dan itu dapat diterapkan untuk berbagai keperluan terkait peningkatan SDM di berbagai bidang bahkan diluar bidang pendidikan itu sendiril. Wah, luas sekali ternyata.

Penjelasan beliau di sore yang berhujan itu membuka pikiranku tentang teknologi pendidikan. Hal ini semakin memantapkan hatiku untuk mengambil S3 di bidang ini yang sebelumnya, karena satu dan lain, hal tidak didapatkan saat mengambil S2. Menjelang akhir pertemuan akupun memberanikan diri berkata kepada beliau,

“Prof, seandainya saya mau masuk S3 TP di UNJ, bolehkan saya minta rekomendasi Professor?”, tanyaku.

“Mengapa tidak? Silakan, kapan Saudara mau. Sekarangpun boleh”, demikian beliau menjawab dengan cepat.

Subhanallah, kaget lagi aku yang kelima kalinya. Setelah berdiskusi dengan temanku, ternyata pendaftaran S3 tahun ini sudah proses masuk. Akhirnya beliau berkata bahwa sebelum mendaftar di tahun depan, aku diminta mengambil rekomendasi dari beliau. Hatikupun kembali berbunga-bunga, karena satu langkah sudah kuayunkan. Allahu akbar, kuasaMu ya Allah. “Jarang lho Prof. Atwi mau bicara panjang lebar seperti itu, apalagi sama orang yang baru dikenalnya”, kata temanku setengah berbisik saat beliau mengambil bukunya yang lain. Tidak lama kemudian, Prof. yang baik hati itu kembali membawa beberapa buku yang ditulisnya beberapa tahun yang lalu dan telah direvisi.

“Saya melihat pak Rofiq satu jalan dengan saya dan kita melakukan hal di jalan yang sama”, tukas Prof. Atwi setelah ngobol beberapa lama seakan menjawab keheranan temanku, dan juga aku tentunya.

**

Belakangan aku baru tahu Prof. ini, beliau adalah Prof. Dr. M. Atwi Suparman, M.Sc., mantan rektor UT (2001-2009) dan salah satu pakar teknologi pendidikan yang dimiliki Indonesia. Pernah pernah menjadi konsultan pengembangan SDM Bank Indonesia untuk perbankan Indonesia dan sebuah perusahaan ritel terkenal. Sampai sekarang sistem yang beliau bangun masih digunakan. Beliau guru besar di beberapa perguruan tinggi diantaranya UT dan UNJ.

**

Sebuah rahmat terkadang datang tanpa diduga dan diharapkan. Namanya juga rahmat dan…bikin kaget. Kubayangkan tiga tahun mendatang sudah kugapai cita-citaku. Kaget membawa rahmat.

***

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Rupa-rupa. Bookmark the permalink.

3 Responses to Diskusi dengan Prof. Dr. M. Atwi Suparman, M.Sc.

  1. Khoirawati says:

    Alhamdulillah, semoga membawa manfaat dan berkah.

  2. yuni says:

    subhanalloh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s