Cerita Lalu (1)


Dua puluh lima tahun yang lalu usiaku 19 tahun, baru tamat SLTA (PGAN). Aku masih ingat benar pada saat perpisahan teman-teman ramai membicarakan kemana mereka akan kuliah. Ada yang sudah mendaftar di IAIN Yogya, Purwokerto, Semarang dan di beberapa perguruan tinggi lainnya. Aku cuma jadi pendengar setia. Saat ditanya kemana mau kuliah, aku cuma tersenyum pahit, sebab aku sendiripun belum tahu. Duh, aku ingin seperti mereka, setidaknya bisa bercerita dengan bangga tentang rencana kuliahnya. Tapi aku tidak bisa, mengingat kondisi ekonomi orangtuaku. 

**

Dari beberapa koran yang kubaca sering aku dapatkan betapa tindak kriminal sangat mudah di Jakarta. “Nyawa manusia lebih murah ketimbang nyawa ayam”, demikian kata beberapa temanku yang merantau ke Jakarta saat mereka pulang kampung. Perkataan temanku itu menguatkan kesanku bahwa Jakarta bukanlah kota yang aman dan ramah. Sehingga saat orangtuaku menawariku merantau ke Jakarta, aku menolak. “Saya ke Yogya saja pak”, demikian kataku kepada ayah. Tapi entah karena tidak ada pilihan lain atau karena kegalauan tentang masa depan yang luar biasa, aku menurut saja saat ayahku membawaku ke kota yang tidak aman dan ramah itu.

**

Pada suatu subuh di bulan Juli 1987 kakiku menginjak tanah Jakarta di stasiun Jatinegara bersama ayahku. Tujuan pertama adalah ponpes Asy Syafi’iyah Jatiwaringin. Kata ayahku disana ada muridnya saat di MTs. yang sekarang sudah menjadi guru.Setelah bertemu dengan murid ayah tersebut, kami melanjutkan perjalanan ke Ciputat. Di daerah ini banyak perantau dari kampungku. Setelah ngobrol sana-sini, akupun dititipkan pada salah seorang yang menjadi tetua perantau. Sore itu juga ayahku pulang. Berbagai perasaan campur aduk dihatiku. Jujur aku merasa berat berpisah dengan orangtua karena selama 3 tahun sebelumnya aku berpisah dengan mereka. Tapi di sisi yang lain aku tertantang untuk mewujudkan cita-citaku jangka pendekku yang hanya satu kata, KULIAH!

Mbah Sanmeja merupakan sesepuh perantau dari kampungku. Karena sudah lama merantau di Ciputat, maka tidak heran kalau beliau punya banyak relasi. Suatu malam aku diantarkan beliau ke rumah salah satu relasinya yang katanya sedang butuh orang untuk memelihara lele dumbo. Akupun diterima bekerja di keluarga pak Hirdjan. Tugas utamaku disamping membersihkan kolah lelenya adalah mengantarkan anaknya yang sekolah di TK dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti cuci-mencuci, menyapu, mengepel, dll.

Keluarga Hirdjan sangat baik. Mereka tidak menganggapku sebagai pembantu, aku dianggap sebagai bagian keluarganya. Demikian pula adik laki-laki bu Hirdjan yang seusia denganku juga menganggapku teman, ditambah lagi dia sering minta diajari main gitar. Pak Hirdjan kaget saat kubilang bahwa aku tamatan sekolah guru. “Yaudah, besok kamu daftar kuliah di IAIN (Jakarta) sekalian ngajar di madrasah”, ujarnya sambil memberikan rekomendasi bahwa ada kepala madrasah yang dia kenal. “Pendaftaran kuliah sudah tutup pak. Kalau mengajar Insyaallah saya siap”, jawabku.

**

Mengingat kondisi ortuku yang kurang memungkinkan membiayaiku kuliah, aku punya program tahun pertama harus punya sumber penghasilan dan tahun kedua harus mulai kuliah. Maka saat lamaranku di MI. Nurul Ghosyiyah Pisangan diterima aku sangat senang. Dengan demikian ada harapan untuk kuliah. Setidaknya saat itu aku punya dua sumber penghasilan, gaji dari keluarga Hirdjan dan honor dari madrasah.

MI tersebut masuk siang sehingga tidak mengangguku mengerjakan tugas di keluarga baik hati itu. Tugas pertamaku menjaga perpustakaan. Kondisi perpustakaan yang memprihatinkan menantangku untuk menjadikannya sebagai sumber bacaan siswa. Dengan sungguh-sungguh aku merapikan dan mengelolanya. Perpustakaanpun berjalan. Saat itu honorku Rp. 5.000,-/bulan. Lama kelamaan aku diberi jam mengajar dan ekskul. Semangatkupun bertambah, apalagi rekan-rekan seniorku sangat welcome.

**

Tidak terasa setahun sudah aku di Ciputat. Mendekati saat-saat pendaftaran IAIN, aku semakin rajin pergi ke kampus IAIN Jakarta untuk mengintip waktu pendaftaran. Alhamdulillah, aku diterima di Fakultas Tarbiyah/PAI. Terus terang minatku ke bahasa Inggris. Tapi saat pendaftaran ada petugas yang bilang bahwa saat itu jurusan bahasa Inggris hanya menerima dari SMA/Aliyah. Akhirnya daripada tidak kuliah, aku memilih jurusan tersebut dan Akidah Filsafat (Ushuluddin). Forget it, yang penting sekarang aku akan kuliah. Aku masih ingat NIMku yakni 1881104558. Setelah kuliah berjalan baru aku tahu bahwa aturan itu tidak ada. Sudahlah….

***

Tunggu lanjutannya…hoaaahmmm ngantuk, besok mo sahur.

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Rupa-rupa. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s