Ramadhan Di Masa Kecil 3


Tulisan ini merupakan lanjutan artikel bulan Agustus 2011 yang lalu. Pengalaman di masa kecil penulis (tahun 80-an) semakin asyik dibicarakan dengan teman-teman dari daerah lain. Masing-masing akan menceritakan pengalamannya, saling mencocokkan dan melengkapi. Artikel ini difokuskan pada hal-hal yang tabu dilakukan dan hal-hal lain yang biasa dilakukan.
Beberapa hal yang tabu dilakukan saat berpuasa pada masa itu, misalnya :
1. Menangis
Ada anggapan bahwa menangis dapat membatalkan puasa. Pernah penulis mencari alasan mengapa menangis dapat menyebabkan batalnya puasa. Dengan alam pikiran anak-anak yang terbatas, penulis berpikiran bahwa air mata yang keluar bisa masuk ke mulut dan ada rasa tertentu.
2. Kentut di dalam air
Salah satu cara untuk ‘membunuh’ waktu sekaligus mencari kesegaran selama berpuasa adalah ‘dus-dusan’ (mandi-mandi) di sungai. Sungai Logawa yang mengalir di kampung kami menjadi langganan. Kami mempunyai tempat favorit untuk berendam. Di tengah keasyikan berendam dan ‘dus-dusan’ kami sekuat menjaga diri untuk tidak kentut di dalam air. Saat kami diskusikan dengan teman-teman, sekali lagi dengan alam pikiran kanak-kanak, bahwa saat angin keluar maka ada air yang masuk. Mirip hukum Archimedes…
3. Tidak boleh mencium aroma masakan
Setelah shalat ashar biasanya ibu mulai memasak untuk berbuka puasa. Pada saat inilah berbagai aroma masakan berseliweran menggoda iman. Mulai dari aroma ikan asin yang digoreng, ‘jangan‘ (tumis/oseng sayuran) dan masakan lainnya. Aroma yang menggoda itu menghadirkan khayalan dua jam mendatang. Mungkin inilah yang membuat hal ini tidak boleh dilakukan oleh anak-anak.
4. Keluar darah karena luka
Saat itu kami sangat menjaga diri agar tidak tergores atau luka yang dapat menyebabkan keluar darah. Namun cukup sulit untuk mencari logikanya.
5. Bertengkar
Kalau sebatas bertengkar sebenarnya hanya membatalkan pahala puasa, demikian kata ustadz kami. Namun tidak demikian bagi kami. Bertengkar dapat menyebabkan puasa batal apalagi jika sampai cakar-cakaran dan menangis.

Selain itu ada beberapa hal yang biasa kami dilakukan, seperti :
1. Mengaji
Menjelang shalat ashar kami sudah berkumpul di masjid. Beberapa anak memukul bedug dan anak yang lain mengumandangkan adzan. Setelah shalat selesai kami bersiap di tempat beranda masjid untuk mengaji. Saat itu kami masih di ‘alip-alipan’ atau buku belajar membaca Al Quran metode Baghdadiyah. Sebagian lagi sudah di Al Quran. Kami mengaji sampai menjelang maghrib.
2. Meludah
Dalam anggapan kami menelan ludah dapat menyebabkan puasa batal. Agar hal itu tidak terjadi maka ludah harus sering di buang. Namun yang kemudian terjadi adalah ludah berceceran dimana-mana dan menebarkan aroma ‘kasturi’. Kasturi kok dibuang-buang…
3. Berdiam di masjid/mushalla
Saat itu masjid di kampung kami mulai ramai sejak pagi terutama oleh anak-anak. I’tikafkah? Barangkali ajaran ustadz agar selama bulan Ramadhan memperbanyak i’tikaf (berdiam) di masjid/mushalla. Tapi namanya anak-anak yang masih kental dengan dunia bermain, maka selama ‘berdiam’ dimasjidpun mereka membawa mainan. Bahkan kemudian melunturkan arti i’tikaf yang sesungguhnya karena lebih banyak porsi bermainnya. Biasanya mereka membawa ‘kecik’ (biji asam, sawo, sirsak, dll) untuk bermain dengan teman-teman. Yah…namanya juga anak-anak…
4. Jalan pagi
Setiap pagi setelah shalat subuh jalanan ramai oleh anak-anak. Mereka yang tidak terbiasa bangun pagi di luar Ramadhan ikut memadati jalan untuk sekedar menghidup udara pagi dan berkumpul dengan teman-teman. Kadang-kadang diselingi teriakan anak perempuan yang kaget oleh bunyi petasan ‘cengis’ (petasan kecil seperti cabai rawit/cengis).
5. Menyalakan kembang api/petasan
Pada saat itu bisa dikatakan bahwa Ramadhan adalah bulan petasan ataupun kembang api. Warung dan pedagang di pasar banyak yang menjual benda bakar tersebut. Orangtuapun luluh dengan rengekan anaknya yang minta petasan/kembang api. Bagi anak-anak jenis petasan/kembang api yang dinyalakan menunjukkan prestise tersendiri. Semakin bagus jenisnya maka semakin banggalah saat dia bercerita di depan teman-temannya.
Saat yang afdol untuk menyalakan kembang api/atau petasan adalah setelah buka puasa, setelah tarawih dan setelah subuh.
6. Mengumpulkan makanan
Saat berbuka merupakan saat yang paling menyenangkan. Tibalah saat untuk ‘balas dendam’ karena seharian tidak makan. Untuk menyempurnakan acara balas dendam itu maka perlu mengumpulkan semua makanan yang kita temui untuk di ‘gasak’ saat berbuka. Maka pada saat berbuka meja makan penuh dengan makanan, sebagian adalah antrian makanan yang kami kumpulkan sejak pagi.

Demikian, kenangan pada suatu masa akan menjadi cerita indah setelah berpuluh tahun terpaut dari saat terjadinya. Setiap dekade dan daerah pastinya mempunyai cerita tersendiri. Silakan bagi yang akan menambah cerita terutama dari daerah lain.

Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan 1433 H.
****

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Rupa-rupa. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s