TERIMAKASIH UNTUK AIR MATAMU…


2006…

Masih terbayang jelas saat kau kubawa observasi ke pesantren tempat kau akan menuntut ilmu selepas SD. Kau bersikukuh tetap duduk di atas motor di bawah terik matahari sekalipun umi dan adikmu menemaniku berbicara dengan kepala sekolah di tempat yang teduh. Air matamupun berguguran saat kuberi tahu bahwa di sinilah kau akan sekolah. Kulihat berat hatimu kelak kau akan meninggalkan kami untuk menuntut ilmu di pondok itu.

Terimakasih untuk air matamu…kau tetap merindukan kebersamaan dengan kami…

Di awal tahun pertama kau mondok, jarang kulihat ceria di wajahmu, yang ada hanyalah kesedihan saat kami tinggalkan. “Kami tidak lama nak,karena cuma menengokmu, kami akan pulang”. Tidak jarang kau peluk erat kaki kami saat kami beranjak pulang atau mengejar kami sambil beruai air mata dan berseru, “Ayaaah….umii…”. Kaupun kami tinggalkan saat kau masih berlinang air mata. Tahukah engkau kalau hati kamipun teriris. Biarlah teriris saat ini…bukan di akhir nanti

Terimakasih untuk air matamu…kau berlatih mengeluarkannya dengan sebab yang kecil, karena di depan sana akan banyak hal yang dapat menyebabkan air mata tertumpah… 

Setelah selesai liburan kaupun harus kembali ke pondok, kembali tak ada keceriaan diwajahmu. Berbagai hal kau buat sehingga keberangkatanmu tertunda. Seribu alasan kau ajukan sehingga kami luluh dan…berakhir dengan air mata.

Terimakasih untuk air matamu…air mata penyesalan yang kau buat sebelum berbuat….

Berbagai cobaan fisik dan mental telah menyebabkanmu tertinggal pelajaran. Pernah suatu saat kausadari hal itu dan kaupun bersedih. Kukatakan padamu, tertinggal pelajaran bukan berarti bodoh, kau dapat berprestasi dengan kemampuan yang hanya kau yang memiliki.

Terimakasih untuk air matamu…air mata yang kau tumpahkan karena kau ingin berbuat lebih baik…

2009…

Tiga setengah tahun waktu yang pendek untuk sebuah perjuangan, tapi waktu yang panjang untuk sebuah penyesuaian. Kau baru bisa menyesuaikan diri dengan lingkunganmu saat kau berada di tengah perjalanan. Kau mulai percaya dengan  dirimu saat kemampuanmu diakui pondokmu. Kulihat pancar matamu berbinar menatap jalan di depanmu. Harapan akan jalan terang didepanmu membuat kami…meneteskan air mata…

Terimakasih kau telah membuat kami meneteskan air mata…kau telah membuat kami punya harapan…

Kau makin bersinar dengan talentamu. Dirimu semakin diakui dan hal itu membuat kami semakin bangga padamu. Senyummu semakin lebar menyambut masa depanmu, kami tersenyum melihat kau tersenyum. Kaji agamamu membuat hatiku tergetar saat tawaran menjadi imam kau terima, juga saat kulihat kau mengkaji Tafsir Jalalain. Air matakupun menetes…

Terimakasih telah membuat aku menangis…karena kau mengkaji kitab yang aku tidak sempat mengkajinya sampai sekarang…padahal aku sangat mengidamkannya saat aku seumurmu…kau telah memuaskan dahagaku mengkaji ilmunya…

2012…

Beberapa kali dirimu kuajak mereview liku-liku perjalanan belajar di pondokmu. Betapa berlikunya jalan menanjak yang telah kau tempuh. Betapa teguh hati umimu harus berjuang mempertahankanmu di pondok. Didalam hati kami tidak ada tempat lain untukmu belajar. Kami tidak tertarik dengan sekolah negeri. Kamipun tidak tertarik mematok NEM yang harus kau peroleh, karena kami tidak berniat kau masuk sekolah negeri. Kami hanya butuh pembentukan karakter pada dirimu. Kami tidak menemukannya di luar pondok.

Semua pengorbananmu saat ini adalah pondasi masa depanmu. Kau akan hidup di jamanmu bukan di jaman kami. Kau tidak memerlukan senjata yang kami gunakan sekarang. Kau butuh senjatamu sendiri karena ‘musuh’mu berbeda dari musuh yang sedang kami hadapi sekarang.

Anakku…

Hari ini 20 Mei 2012 kau diwisuda, tamat sudah pendidikanmu ditingkat menengah. Janganlah kau anggap sebagai akhir sebuah perjuangan. Ingatlah bahwa setiap ‘akhir’ pada hakekatnya adalah ‘awal’ dari tahap berikut. Masih panjang perjalananmu. Besok akan banyak hal yang dapat menyebabkan air mata tertumpah. Bersiaplah untuk itu…airmata bahagia maupun sebaliknya.

Terima kasih telah membuat kami menangis…kau telah membuat kami merasakan manisnya perjuangan dan cerita indah yang hadir karena waktunya telah tiba…

Bukankah setelah hujan badai akan terbit pelangi?

***menyambut haflah takhrij Ponpes Darul Muttaqien angkatan ke-18***

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Rupa-rupa. Bookmark the permalink.

11 Responses to TERIMAKASIH UNTUK AIR MATAMU…

  1. yayah nurmaliah says:

    hm….saya pun pernah melewati tetesan airmata itu…bekal melewati perjalanan kehidupan di luar pondok..salut dan bangga bt ketegaran Pak Rofiq sekeluarga, dan selamat bt ananda! — Hayatul fataa wallahi bil ‘ilmi wattuqaa, idza lam yakunaaa la’tibaraa lidzatihi– Innal fataa man yaquulu haa anadza, walaisal fataa man yaquulu kaana abi ( Pepatah Arab). Allahu Yubaarik!

    • rofiquez says:

      trimakasih bu yayah.alhamdulillah sy mengalami masa spt itu jd lbh menghayati arti kehidupn yg sebenarnya.tinggal satu lg di DN…Allah yubarik ‘alaik aidhan..

  2. waduh…jd terharu n terhanyut membaca tulisan bapak…sy jg pingin sekali ada putra kami yg mau belajar di pondok pesantren…bgmn ya pak cara memotivasinya? ….busyam16-mlg.

  3. titi says:

    wadhuhh..jhiann…nangis beneran daku..teringat pula dulu, saat ku pun merasakan apa yang Adi rasakan….ku dipaksa mondok..ku pilih di Jombang..jauuuhhh..menangis itu rutinitasku..ku hanya bertahan 4 bulan.. n lanjut di pesantren dekat rumah….yah..kini kumerasakan..hanya sedikit yang ku dapat…hanya sedikit yang ku punya… Semoga Allah beriku Jalan tuk meraup lagi ilmu-ilmu Nya…

    • rofiquez says:

      sbnarnya akupun dmikian wktu di sokaraja.tp skrg baru kurasakn mnysal knp dulu krg serius ngaji dll.’paksaan’ bapak itu mrupkan ‘api’ yg sekrg memang kita butuhkan.adi jg suka crita,wlopun gk scr langsung mngtkan betapa bermanfaatnya mondok,mslnya dd bangga dia crita habis jd imam shalat dg tmn2 kuliahnya…alhamdulillah.trims udh mampir adik bontotku..

  4. trigoesema says:

    Blognya Keren dan Salam Kenal

    Blogwalking Web Kimia SMK Asyik
    Di
    http://www.trigpss.com/

  5. tatik Pudjiani says:

    Aq dah mengalami 2 x, th 2012 dan sekarang 2014. Di th 2012 Air mataku dan si Sulung menetes tak terbendung selama seminggu pertama.Setiap Magrib dg diam2 kutatap dari jauh saat si Sulung berjamaah bersama teman2nya. Sekarang alhamdulillah 2 tahun tlah berlalu, kami merasakan manfaatnya, utk urusan shalat, mengaji sudah tidak perlu aq teriak2 lg. Utk puasa Senin Kamis, malah aq kalah. dan utk karakter Islami semoga terbawa sampai kapanpun, utk mapel umum, alhamdulillah maju OSN tingkat propinsi. Terima kasih utk air mata yang harus mengalir, kau salah satu saksi. Sekarang si bungsu menyusul ke pondok. Air mataku, anak bahkan suami menetes deras pd awal2, karena si bungsu super dekat dg ayahnya. Berkali-kali modus berkata sakit minta pulang. Dengan sabar kubawa ke dokter, namun dokter menyatakan tidak sakit (fisik) apapun. Perlahan kubisikkan al Fatihah berulangkali dan kujanjikan menulis buku diary” pengalaman masuk pondok pesantren” yg kelak dapat dibaca anak-cucu, eh tangisnya mereda…Mungkin dia tak ingin kisah manjanya dibaca anak cucu…Alhamdulillah sekarang 2 bulan telah berlalu, semoga krasan dan Allah meridhoi. Walau kadang sakiiiiiit hati ini menahan kangen, kangen memeluk, kangen mencium…yg tak bs tertumpah walau dilampiaskan pd ayahnya(lhoooo…porno), tp gak apa2, semoga Allah menolong anak2ku, meridhoi anak2ku. Amin. Thanks kang Opik, saat nulis ini air mataku mengalir deras tp lega

    • rofiquez says:

      Insyaallah menjadi bumbu kehidupan yang indah Bune…itu perjuangan si sulung dalam perjalanan menempa diri. tapi satu hal jangan sampai orangtua surut dari niat untuk memondokkan putranya.//wkwkkk…yang terakhir itu lho…sangat tepat sasaran pelampiasannya…smg kang putra jadi manusia yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama seperti bapak ibunya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s