AL AMANAH MART


Saat ini nama SMK sedang terangkat. Semboyan “SMK Bisa!” ternyata menunjukkan bukti. Semenjak mobil SMK diluncurkan semua mata tertuju pada sekolah ini. Dari image awal sebagai sekolah lanjutan “kelas dua” SMK telah naik tingkat menjadi sekolah “kelas satu” karena produk yang dihasilkan. Mobil SMK tersebut merupakan produk SMK otomotif. Apakah SMK rumpun yang lain seperti bisnis dan manajemen (BM) bisa menghasilkan produk? Pasti bisa dan tentu bukan berupa mobil.

Desember  2011 menjadi tonggak kebangkitan SMK Al Amanah Tangerang Selatan. Melalui bidang pemasaran, sekolah ini memiliki sebuah unit penjualan yang diberi nama “Al Amanah Mart”. “Modal mart ini  berasal dari Kemdikbud, dimaksudkan sebagai sarana praktik kewirausahaan para siswa sekaligus laboratorium penjualan,” demikian disampaikan oleh pak Nahrawi, Kepala Sekolah.

Semenjak dilaunch, mart ini semakin ramai. Harga barang yang dijual pun cukup bersaing sehingga konsumen semakin luas, tidak hanya dari masyarakat sekitar tetapi juga masyarakat di sekitar tempat tinggal siswa. Menggunakan konsep distributor siswa diberi keleluasaan untuk memasarkan barang bahkan memasok ke warung eceran.

Juragan Muda

Siang itu selepas pulang sekolah, mart mendadak ramai dengan masuknya beberapa siswa. Ada yang langsung sibuk memilih barang, sementara siswa lain sibuk mengepak dan membayar di kasir. Semua larut dalam kesibukan masing-masing. Setengah jam kemudian beberapa siswa pulang membawa beberapa dus berisi barang kebutuhan sesuai pesanan seperti detergen, sabun, min instant dan minuman. Barang-barang tersebut diikat di sepeda motor sehingga tampak penuh di bagian depan maupun di belakang.

Di antara mereka terdapat kakak beradik Mala dan Mus. Menurut Nurhadi, petugas harian mart, mereka sudah menjadi distributor di sekitar tempat tinggalnya dan setiap transaksi rata-rata di atas Rp. 500 ribu. “Saya pasarkan untuk keluarga dekat dan warung-warung eceran,” demikian jawab Mala ketika ditanyakan konsumen mereka. Tidak heran jika berbelanja, siswa kelas XII Pemasaran ini selalu “kerepotan” membawa barang belanjaan.

Faridpun tidak mau kalah. Teman sekelas Mala dan Mus inipun rajin belanja di mart. “Konsumen saya adalah tetangga, keluarga dan warung eceran,” demikian ujarnya ketika ditanya tentang pelanggannya. Secara berkala para pelanggan Farid memesan barang-barang kebutuhan, sedangkan untuk konsumen warung, Farid rajin memantau stok barang yang kurang.

Untuk pembayaran menurut Mala dan Farid relatif lancar, yang penting selektif dalam memilih konsumen agar tidak terjadi kredit macet dan rajin mengingatkan. Bahkan ada beberapa konsumen yang memberi pembayaran dimuka.

Suka dan duka tetap ada. Diantara pengalaman yang kurang menyenangkan adalah saat belanja cukup banyak tiba-tiba turun hujan di tengah jalan, terpaksa harus berteduh terlebih dahulu. Sedangkan pengalaman yang menyenangkan ketika semua barang belanjaan habis diserbu konsumen dan pembayaranpun lancar.

Lalu apa mereka dapatkan?. “Kepada siswa yang menjalankan bisnis ini disamping mendapat nilai juga mendapatkan share keuntungan,” demikian dikatakan pak Tarno, Kaprog Penjualan sekaligus Koordinator mart.

***

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Pendidikan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s