MENGGALI TRADISI SEPUTAR RAMADHAN DAN LEBARAN DI TANGERANG SELATAN


Kedatangan bulan Ramadhan senantiasa ditunggu terutama oleh umat Muslim. Kemuliannya membuat tumbuhnya berbagai tradisi untuk memeriahkannya. Setiap daerah memiliki tradisi yang berbeda dalam memeriahkannya. Namanya juga tradisi sudah tentu lebih sarat bernuansa budaya dan adat setempat, tidak berkaitan dengan normatif syariah tetapi tidak bertentangan dengan syara selama tidak ada yang menyeretnya ke arah itu.

Adanya tradisi yang berlangsung di suatu daerah bukan sekedar bernilai kemeriahan tapi lebih dari itu akan dapat menggerakan kegairahan masyarakat setempat dalam memelihara budaya. Karena sudah mentradisi maka terdapat nilai nostalgik bagi yang pernah mengalaminya di masa kecil. Berlangsungnya acara juga akan menyedot masyarakat dari daerah lain untuk menyaksikannya dan akan menjadi obyek wisata menarik. Keramaian akan menimbulkan pasar, menumbuhkan sektor usaha kecil dan bergeraknya sektor ekonomi di daerah itu.

Sebagai kota baru Tangerang Selatan bukan berarti tidak memiliki tradisi di seputar Ramadhan. Di beberapa desa sebenarnya sudah ada beberapa tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun yang dapat dijadikan sebagai tradisi lokal Tangsel.

Pelita Malam Lebaran

Masyarakat Bakti Jaya, kec. Setu tempat saya tinggal, malam Lebaran 2010 masih memasang pelita di kiri kanan jalan AMD Bakti Jaya Pocis sepanjang lebih dari 1 km. Pelita dibuat dari botol minuman energi yang diberi sumbu dan berbahan bakar minyak tanah. Dipasang dengan jarak  1,5 – 2 m diikatkan pada batang bambu setinggi 1 m dari tanah. Setelah dinyalakan kerlap-kerlip pelita yang bergoyang ditiup angin akan menguapkan aura syahdu diiringi kumandang takbir di malam Lebaran. Lampu ini dibuat secara bergotong-royong oleh warga. Beberapa hari sebelumnya botol minuman sudah dikumpulkan, sumbu yang digunakan adalah sumbu kompor, sedangkan pipa sumbu dibeli di pasar Serpong. Namun dengan adanya konversi minyak tanah ke gas rupanya menyurutkan tradisi ini walaupun sebenarnya masih bisa diganti dengan minyak sayur bahkan bohlam listrik. Lebaran 2011 ini tidak terlihat lagi kerlap-kerlip pelita di Pocis. Mungkin faktor kelangkaan bahan bakar atau karena Lebaran ‘ditunda’. Alasan yang tepat kurang jelas tapi sungguh merasa kehilangan. Belum sempat diberi nama namun keburu menghilang. Sayang sekali. (Nama “Pelita Malam Lebaran” hanyalah rekaan penulis daripada tak ada judul).

Di daerah lain, misalnya di Gorontalo, tradisi ini disebut “Tumbilotohe” atau menyalakan lampu. Tradisi ini sudah berlangsung secara turun-temurun sejak abad XV. Semula menggunakan minyak damar, karena semakin langka maka digunakan minyak tanah. Sekarang minyak tanahpun menghilang, tetapi karena Pemda setempat konsisten terhadap pelestarian budaya maka subsidi dikucurkan kepada setiap kelurahan. Acara digelar pada 3 malam penghujung akhir Ramadhan dan dilombakan sehingga setiap kelurahan tergugah untuk menampilkan kreasi terbaiknya. Malam Lebaran merupakan malam puncak “Tumbilotohe” bahkan dibuat pula di kantor Gubernur yang terletak di puncak bukit sehingga bisa dilihat dari berbagai arah. Disamping masyarakat Gorontalo sendiri, “Tumbilotohe” juga berhasil menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara untuk menyaksikannya. Demikian keterangan seorang teman yang asli Gorontalo.

Ngadu Bedug

Beberapa tahun yang lalu terdapat festival “Ngadu Bedug” di Kampung Jati, desa Buaran kec. Serpong. Beberapa buah bedug disiapkan dalam berbagai ukuran kemudian ditabuh. Untuk memeriahkan acara ini dinyalakan pula petasan. Acara ini berlangsung tujuh hari setelah lebaran dan berlangsung selama beberapa hari. Keramaian acara ini telah berhasil menyedot perhatian masyarakat dari desa lain dan menjadi obyek wisata alternatif yang murah-meriah pasca Lebaran. Akan tetapi dengan pemberlakuan larangan menyalakan petasan oleh pihak berwajib menjadikan acara ini kurang meriah. Namun demikian pihak berwajib juga tidak bisa disalahkan begitu saja, karena seringkali terjadi kecelakaan karena terkena ledakan petasan bahkan perang petasan. Tentunya pihak berwajib tidak mau kecolongan lagi. Kalau di daerah Banten dikenal dengan “Rampak Bedug”.

Solusi

Untuk memberi ciri khas daerah sudah sewajarnya bila Pemkot mulai menginventarisir tradisi-tradisi sekitar Ramadhan dan Lebaran yang sudah ada di wilayah Tangsel. Para tokoh masyarakat tentunya bisa memberikan masukan tentang tradisi yang sudah ada. Akan halnya bahwa pernah ada ekses negatif dari pelaksanaannya sebaiknya dicarikan solusi terbaik, jangan sampai seperti membasmi tikus dengan cara membakar lumbung.

Dengan adanya kajian yang mendalam dan diikuti kebijakan, Pemkot dapat menggerakkan masyarakat Tangsel melalui masing-masing kelurahan. Imbas sosiologis dan ekonomis akan dapat dirasakan oleh masyarakat ketika secara konsisten Pemkot melindungi dan melestarikan tradisi tersebut.

Secara sosiologis masyarakat akan merasa bangga karena memiliki tradisi yang menjadi ciri khasnya. Sedangkan secara ekonomis penyelenggaraan sebuah acara tentu dapat menggerakkan sektor usaha kecil. Mari kita lihat, untuk membuat pelita dibutuhkan botol minuman, sumbu, rumah sumbu, minyak dan bambu penyangga. Nah, hal ini akan memancing mereka yang memiliki kemampuan untuk membuat dan menjualnya. Belum lagi ketika acara berlangsung sudah tentu akan bermunculan pedagang-pedagang kecil dan usaha komersil lainnya.

Sekarang tentang “Ngadu Bedug”. Acara ini bisa dipusatkan di sebuah tempat misalnya di depan Kantor Walkot. Dengan dibuka Walikota, pada acara ini ditampilkan atraksi bedug dari kelurahan atau group yang ada di Tangsel. Pesta rakyat ini dimeriahkan dengan bazar, pasar malam dan acara panggung. Nah, tanpa petasanpun acara ini tetap meriah.

Karena keragaman etnis penduduk Tangsel, tradisi ini akan menjadi pilihan hiburan murah meriah bagi perantau yang tidak mudik dan masyarakat asli tentunya. Nah, silakan dipikirkan.

***

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Seni Budaya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s