RAMADHAN DI MASA KECIL 2


Ah… Ramadhan selalu membawa berkah bagi semua orang, baik yang Muslim mupun non Muslim, orangtua maupun anak-anak. Semua menjadi kenangan indah. Masih melanjutkan bicara tradisi seputar Ramadhan…ayo langsung ke TKP…

Tlidur

Kegiatan lain untuk memeriahkan Ramadhan adalah tlidur (menabuh bedug bertalu-talu dalam waktu yang cukup lama di masjid/mushalla). Sehari sebelum Ramadhan kami bergotongroyong membersihkan masjid dan menjemur bedug. Dibanding masjid lain bedug di masjid kami paling besar. Bedug kebanggaan ini terbuat dari bekas tanki minyak hadiah dari pabrik minyak kelapa yang ada di kampung kami. Seingat penulis kalau sekedar kulit kambing tidak cukup untuk menutup mulut bedug melainkan harus kulit sapi atau kerbau. Setelah di jemur bunyinya lebih nyaring dan jernih.

Tlidur dilakukan secara teratur. Mulai tanggal 1 – 20 Ramadhan dilakukan setelah tarawih dan menjelang sahur. Tanggal 21 – 30 Ramadhan selain pada waktu-waktu tersebut ditambah lagi setiap jam 15.00. Pada malam takbiran kami tlidur semalam suntuk sambil mengiringi takbiran sampai menjelang shalat Ied.

Prepegan

Rumah orang tuaku dekat dengan pasar desa, jadi aku cukup hafal dengan segala denyut dan dinamikanya apalagi di bulan Ramadhan. Peristiwa rutin yang terjadi berkaitan dengan datangnya bulan Ramadhan sampai saat ini adalah prepegan. Pada momen ini suasana pasar lebih ramai dari biasanya dan terjadi setiap tanggal 21 dan sehari sebelum Lebaran. Prepegan lebih tepat dikatakan sebagai bursa ikan tawar.

Sejak pagi pedagang ikan sudah siap di lapak masing-masing. Brokoh (baskom ikan terbuat dari anyaman bambu yang diberi lapisan anti bocor) dibuka sehingga tampaklah ikan yang dijajakan, mulai dari mujair, nila, mas, lele sampai gurame. Ikan yang disebut terakhir ini dijual dengan harga paling mahal dan ikannyapun lebih besar dibanding yang lain. Bisa dikatakan gurame menunjukkan prestise. Suasana pasar sangat ramai sampai siang karena dimeriahkan pula oleh pedagang lain.

Bagi yang memiliki kolam ikan tetapi tidak berniat menjualpun ikut memanen ikan atau bedah blumbang (kolam). Ikan yang dipelihara dikonsumsi keluarga sendiri. Empat tahun yang lalu penulis masih ikut bedah blumbang bersama anak-anak di kolam milik orangtua.

Mengapa ikan tawar? Ada tradisi pada masyarakat di kampungku bahwa pada tanggal 21 dan H-1 Lebaran orang yang sudah berkeluarga mengirim makanan ke orang yang dituakan. Kegiatan ini disebut ngirim. Makanan yang dikirim berupa nasi dan lauk pauknya seperti sambal goreng kentang atau tempe, telur, srundeng (kelapa parut yang digongseng dengan potongan daging, rasanya gurih dan manis), ayam goreng ataupun ikan tawar. Penulis teringat saat kelas VI SD baru dibelikan sepeda sebagai hadiah khitan. Karena sepeda baru maka kemanapun pergi penulis membawanya termasuk ketika orangtua menyuruh penulis mengantarkan kiriman ke rumah uwak (pakde). Malang tak dapat ditolak, baru 10 m mengayuh jatuhlan kiriman dari boncengan sepeda. Nasi dkk berserakan di jalanan. Dengan malu hati penulis membereskan rantang yang terlempar ke berbagai arah. Akhirnya penulis mengirim lagi…jalan kaki tentunya.

***

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Rupa-rupa. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s