RAMADHAN DI MASA KECIL 1


Mengenang kejadian yang telah berlalu ternyata mengasyikkan, setidaknya sebagai nostalgia untuk mengobati kerinduan pada keindahan masa kecil yang tak mungkin terulang. Kenangan yang terjadi sewaktu masih di SD selalu indah untuk dikenang dan menjadi bahan cerita indah. Berikut ini penulis berusaha merekonstruksi kegiatan di sekitar Ramadhan sekitar awal 80-an sewaktu masih tinggal di kampung halaman, Karanggandul, Purwokerto, sebuah desa kecil di kaki gunung Slamet.

Bulan Ramadhan yang datang setiap tahun disambut baik oleh semua kalangan tidak terkecuali oleh penulis dan teman-teman sepermainan. Saat itu pemerintah belum melarang keras permainan yang berbasis mesiu seperti petasan dan bledugan. Petasan mulai dari petasan cengis (petasan cabe rawit), sreng dor (setelah dinyalakan dilempar ke atas dan meledak di udara) sampai petasan gong (sebesar kaleng susu, biasanya dinyalakan terakhir pada rangkaian petasan). Demikian juga kembang apipun belum sehebat sekarang, saat itu baru ada kembang api yang menempel di kawat kecil, setelah dinyalakan bisa dipegang saja ujung kawatnya atau dilempar ke pepohonan dan dibiarkan tersangkut, petasan tetes air dan yang paling hebat adalah kembang api air mancur.

Petasan dan Kembang Api

Mulai tanggal satu Ramadhan di pasar ramai dijual petasan (mercon) dan kembang api, banyaknya hampir seimbang dengan sembako. Demikian pula pada saat menyalakan juga seperti tidak kenal waktu, kapan saja bisa dinyalakan tidak pandang pagi, siang apalagi malam. Maka tidak heran kenyamanan berpuasa cukup terganggu dengan dar…der…dor tersebut.

Setelah shalat subuh kami jalan-jalan pagi. Beberapa teman penggemar petasan menyalakan mainannya, tentu saja agak berbahaya karena tidak jarang dijadikan sebagai bahan lemparan ke anak-anak perempuan. Biasanya yang dinyalakan adalah petasan cengis. Aku sendiri tidak suka petasan, mungkin karena sejak mula orang tua melarang keras. Resikonya tentu cukup besar karena ada seorang teman yang terpaksa berlebaran di tempat tidur gara-gara tangannya terluka terkena ledakan mercon.

Bledugan

Menjelang Ramadhan tiba kami mengumpulkan bahan-bahan untuk membuat bledugan atau meriam berbahan ledak karbit seperti kaleng susu dan bekas cat. Beberapa orang lagi mempersiapkan bambu petung (bambu berdiameter besar dan berwarna kehitaman). Orang dewasapun tidak mau kalah, mereka membuat yang lebih besar lagi dari pohon pinang.

Bledugan kaleng dibuat dengan menanamnya di tanah, jadi bersifat permanen. Agar lebih berseni kami membuat bentuk-bentuk unik di badan meriam menggunakan tanah liat. Dengan panjang sekitar 1 m meriam dipasang dengan kemiringan 30 derajat,  posisi mulut lebih tinggi dibanding pangkalnya. Sekitar 5 cm dari pangkal dibuat lubang kecil untuk menyalakan meriam. Sebagai bahan peledak kami menggunakan karbit yang dibeli di toko material. Bersama teman-teman satu grup kami memecahkan karbit menjadi sebesar kerikil kemudian direndam minyak tanah supaya tidak menguap. Perlengkapan lainnya adalah wadah karbit dibuat dari 1/3 potongan kaleng sardencis yang diberi tangkai sampai ke mulut meriam.

Pada saat akan tembakkan pecahan karbit dimasukkan ke wadah tersebut yang sebelumnya sudah diisi sedikit air. Air berfungsi untuk menguapkan karbit. Uap karbit inilah yang akan disulut sehingga timbul ledakan. Wadah dimasukkan ke mulut meriam dan mulut meriam disumpal dengan kain, sedangkan lubang penyalaan disumbat dengan potongan bambu. Dari dalam meriam akan terdengar bunyi mendesis tanda karbit mulai menguap. Berhentinya bunyi desis menandakan karbit telah menjadi uap. Semakin sering menyalakan bledugan akan timbul feeling kapan meriam siap diledakkan. Menggunakan tongkat sepanjang sekitar 1,5 m apipun disundutkan melalui lubang penyalaan, dan… jguuuerrrrrrr…meriam menyalak membelah kesunyian. Kami bersorak gembira. Apalagi bila sayup-sayup terdengar gelegar yang sama dari tempat lain, semangat kami makin berkobar untuk memperbesar karbit yang dimasukkan ke mulut meriam.

Bambu petung dan pohon pinang yang akan digunakan sebagai meriam harus dilubangi terlebih dahulu. Untuk bambu petung tinggal menghilangkan ruas-ruasnya dan menyisakan ruas terakhir pada bagian pangkal. Sedangkan untuk pohon pinang harus membuang daging-daging pada bagian dalam batang. Agar lebih kuat disekeliling batang diikat dengan tali bambu. Bledugan jenis ini cukup fleksibel karena bisa dipindah. Prinsip kerjanya sama dengan bledugan kaleng, bedanya pada bledugan ini tidak menggunakan wadah bertangkai karena sisa penguapan karbit bisa dibuang dengan menuangkan langsung ke tanah.

Karena bunyinya yang keras kami membuatnya di kebun yang agak jauh dari rumah penduduk. Demikian waktu penyalaanpun agak teratur, misalnya menjelang berbuka sambil nggolek sep (ngabuburit) dan ba’da subuh. Setelah shalat Ied bunyi ledakan meriam ikut memeriahkan suasana Lebaran, apalagi angpau yang diterima cukup untuk menambah amunisi. Pesta meriam berakhir saat suasana lebaran mulai menghilang pada minggu awal bulan Syawal.

***

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Rupa-rupa. Bookmark the permalink.

2 Responses to RAMADHAN DI MASA KECIL 1

  1. buret says:

    mampir berkunjung & bersilaturahmi, mohon mav lahir batin sob

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s