Terulang dan Terulang Lagi


patahSeperti tahun-tahun sebelumnya, kesibukan itupun berulang. Mulai bulan April dunia persekolahan mulai disibukkan dengan kegiatan akhir tahun pelajaran. Kesibukan dimulai dengan pelaksanaan UN di semua jenjang pendidikan, termasuk SD yang tahun lalu masih disebut dengan USBN. Persiapan menjelang UN cukup menyita segalanya, waktu, tenaga dan biaya pastinya. Semua lini yang berhubungan dengan sekolah berkepentingan untuk suksesnya hajat nasional tahunan ini. Dari kalangan birokrat yang menangani kebijakan sampai pada kepala sekolah sebagai pelaksana di lapangan.

Bahwa atas nama kejujuran kepala dinas, kepala sekolah dan pejabat lain ramai-ramai menandatangani ‘pakta kejujuran’ di awal pelaksanaan UN. Tetapi di sisi lain merekapun khawatir dengan angka kelulusan bila UN dilaksanakan secara jujur sejujur-jujurnya. Mungkin bisa digambarkan bahwa pada saat menandatangani pakta maka saat itu pula terjadi pertentangan antara batin dengan rasio. Secara batiniah mereka merasa harus menjunjung tinggi nilai kejujuran, tetapi rasio mengatakan ‘kalau angka kelulusan jeblok masihkan saya menjabat kepala dinas, pengawas atau kepala sekolah?’

Lalu apa yang harus dilakukan? Tidak ada cara lain kecuali ’mensukseskan UN’. Apa yang harus digaris bawahi dari kata ini? Sekilas tidak ada yang jelek dengan kata ini. Bagus-bagus saja. Artinya hajat nasional harus berlangsung dengan baik, terhindar dari hal-hal lain yang dapat mengganggunya, logistik harus lancar. Pokoknya segala urusan mulai dari hulu sampai hilir, samping kanan dan kiri harus memuluskan jalannya UN.

Akan tetapi penafsiran dan penerapan di lapangan menjadi lain. ‘Mensukseskan’ berarti angka kelulusan harus tinggi. Kondisi keragaman kemampuan siswa, sarana, dan penunjang lain minggir dulu, yang penting prosentase kelulusan harus tinggi. Caranya? Silakan para pelaku di lapangan menafsirkannya dengan cerdas.

UN diibaratkan sebagai tantangan, kemampuan siswa, sarana dan prasarana pendidikan sebagai kekuatan, sedangkan UN adalah hasil. Tantangan dalam bentuk soal-soal UN memiliki kesetaraan kesulitan untuk semua wilayah di Indonesia. Sedangkan kekuatan memiliki keragaman yang sangat bervariasi. Bila tantangan dan kekuatan setara maka hampir tidak ada treatment khusus untuk mencapai hasil yang tinggi. Tapi bila kemampuan tidak cukup kuat tetapi hasil yang ingin dicapai tinggi maka harus ada treatment khusus.

Mayoritas kekuatan sekolah di negeri kita berada pada level rendah. Mulai dari siswa, sarana, metodologi, guru dan sarana penunjang yang lain. Dengan kondisi yang seadanya kecil kemungkinan mencapai prestasi yang tinggi. Maka yang ada adalah treatment dalam bentuk kecurangan massal yang terjadi setiap tahun. Seorang teman bercerita bagaimana seorang pengawas dan kepala sekolah bergerilya setiap malam untuk membuat kunci jawaban. Belum lagi pengkondisian siswa agar dapat menyontek dengan leluasa. Ketika ujian semester siswa dilarang keras mencontek. Tetapi apa yang terjadi ketika UN? Mereka menyontek berjamaah dan terkondisi. Salahkah mereka? Ah, demi ‘sukses’nya UN itu bisa dimaklumi, demikian kata golongan pro kecurangan.

Sampai kapan hal ini akan terus berulang? Hanya Tuhan dan para pelakulah yang tahu.

***

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Terulang dan Terulang Lagi

  1. ass….
    bagaimana pemerintah menyikapi tenteng ke bocoran kunci jawaban pada setiap UN ..?

  2. yogi says:

    menurut saya yg terpenting adalah kesadaran dari para guru agar lebih menekankan kembali terhadap para siswanya bahwasannya kejujuran adalah kunci yg terpenting dengan hal ini murid akan lebih menyadari & dengan mudah guru mengarahkan bahwasannya un ituh adalah kejujuran yg utama dibandingkan dengan kecurangan

    kalo salah harap di maklumi

  3. rofiquez says:

    setuju skali yogi…asalkan hasilnya tidk mmpngaruhi kelulusan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s