Tafsir Jalalain di Tangan Anakku


Sekitar tahun 1984-1987 aku sekolah di PGAN Purwokerto, Jateng sambil mondok di PP Al Falah Sokaraja. Pondok ini tidak terlalu besar, santrinya pun di bawah 100 orang. Sekalipun demikian tetap eksis dari tahun ke tahun, mulai dari kakak kelasku sampai saat inipun masih berjalan. Mayoritas santri adalah siswa/i sekolah menengah di daerah Sokaraja dan Purwokerto. Dibawah bimbingan KH. Muhammad dan para asatidz lainnya para santri mengkaji Al Quran dan berbagai kitab kuning.

Setiap hari aku mengayuh kereta angin bersama teman-teman sejauh 16 km ke sekolah pulang-pergi.

Sebenarnya sekolah sambil nyantri merupakan dua hal yang saling menunjang. Saling melengkapi dalam memenuhi rasa haus akan ilmu. Seharusnya kesempatan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya karena pasti akan berguna di masa depan.

Awal aku nyantri jujur saja karena banyak didorong (sebenarnya lebih banyak dipaksa) orang tuaku. Tapi lama-lama aku menikmati kehidupan pesantren. Waktu itu aku baru punya hobby baru, main gitar. Aku pikir waktu itu, dengan nyantri maka ilmu gitarku akan terhenti. Tapi ternyata meleset. Kebetulan keluarga kyai masih kerabat ibuku. Maka – bukan bermaksud memanfaatkan hubungan kekerabatan – akupun belajar gitar lebih dalam dengan keponakan kyai. Lumayan ada peningkatan. Setidaknya ada beberapa kunci dan grip tambahan yang aku kuasai. Perbendaharaan lagupun bertambah. Mulanya hanya “Melati dari Jayagiri” dan “Tuhan” yang aku kuasai. Bagaimanapun juga hal ini sangat aku syukuri karena jarang ada kesempatan nyantri sambil ngaji gitar.

Lho disuruh ngaji malah nggitar….

Tapi aku tidak mengkhianati tujuan ideal seorang santri, yakni ngaji. Beberapa kitab alat (tatabahasa Arab) aku pelajari, terutama Jurumiyah, walaupun kadang-kadang masih bingung. Selain itu kitab-kitab Fiqh, Ushul Fiqh juga aku pelajari.

Ngaji Tafsir

Saat itu setiap hari Ahad di aula pondok ada pengajian khusus dewasa yang diasuh ustadz Imron. Beliau masih muda tapi kitabnya ok. Kebetulan kamarku cuma berbatasan tembok dengan aula. Kitab yang dikaji adalah Tafsir Jalalain.  Tafsir ini karya dua ulama tafsir besar Jalaluddin asy-Syuyuthi dan Jalaluddin Muhammad Ibn Ahmad al-Mahalliy. Kata teman-temanku untuk mengkaji kitab ini harus punya dasar ilmu alat yang kuat, kalau tidak…wah bisa gawat. Mendengar criteria ini aku jadi mundur. Semula pada saat pengumuman aku menggebu-gebu ingin ngaji Tafsir ini. Aku mengukur diri bahwa kompetensiku di ilmu alat masih di bawah standar. Akhirnya aku harus puas walau dengan cara menguping penjelasan ustadz Imron. Tangga pintu samping aula menjadi tempat favoritku jadi mustami’ kajian Tafsir masyhur ini sambil menikmati keteduhan pohon belimbing.

2011

Kini anakku seusia aku saat itu. Dia kelas XI MA Ponpes Darul Muttaqien Parung.vAda kesamaan jalan cerita dia nyantri. Mulai dari keterpaksaan dan belajar music di pesantren. Bedanya pesantren anakku memfasilitasi santrinya yang hobby bermusik.

Suatu saat aku menengoknya untuk mengantarkan uang bulanan. Tak lama duduk di depan kamarnya diapun datang sambil menenteng sebuah kitab tebal. Akupun tertarik untuk melihat kitab yang dia bawa. Tafsir Jalalain…..

Hatiku tergetar…, kitab inilah yang tidak sempat aku kaji ketika nyantri. Getaran hatiku mendorong airmataku untuk keluar. Tapi karena situasi ramai maka kutahan sekuat mungkin. Dalam hati kuberkata, “Ya Allah ternyata kesempatan itu Kau berikan kepada anakku, aku rela sepenuhnya. Terimakasih Ya Allah…”.

Jadikan kedua anakku bermanfaat bagi sesama. Saat liburan nanti aku akan ngaji padanya.

***

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Rupa-rupa. Bookmark the permalink.

7 Responses to Tafsir Jalalain di Tangan Anakku

  1. syamsiyah nugroho says:

    Terharu baca tulisan ini….apalagi tidak lama berselang sempat teteskan air mata haru melihat foto2 putra teman yg sedang jalani tes di Gontor. TSetelah baca tulisan ini…terselip sesal semakjn dalam…kenapa kami tidak bisa arahkan si sulung untuk ikut nyantri di pondok pesantren.

    • rofiquez says:

      trimakasih bu syam,sekolah di luar ponpes bkn halangan untuk belajar agama…gitu ya bu…smg ananda menjadi anak yg shalih/ah.

  2. Iin Haerani says:

    Assalamualaikum wr.wb. Saya lagi bingung. Anak saya juga pesantren di Darul Mutaqien kls 7 tapi dia ga betah, sakit-sakitan terus. apa ibu punya solusi ? trims.

    • rofiquez says:

      waalaikum salam bu.klo spt itu problem biasa anak bru masuk ponpes bu.anak sy bru mrasa enjoy wktu kls 4 smt 2.jd selama 3,5 th jg bnyk masalah.mulai dari sakit2an,prestasi belajar g bagus,dll.scr psikologis dia kaget dg pola khidpan baru d ponpes yg srba diatur,waktu limit,makan antri,semua urus sndiri.ini berbalik 180 derajat dibnding wktu d rumah.cb ibu gali apa hobby atau kemampuan anak ibu,lalu cb fasilitasi dan dorong dia utk aktualisasi.spt anak sy, dia bakat di musik,sejak dia dipake DM klo prpisahan ngiringin paduan suara dia baru mrasa betah.apalgi dminta jd pngurus OPDM.intinya klo kemampuannya diakui pondok, anak mrasa ‘dianggap’.
      jadi sabar aja,klo sakit ttp diobati,bw k dokter dan jgn lp bacakan surat al fatihah setiap ba’da shalat niatkan khusus agar ruh anak ibu betah di ponpes.
      ini sharing aja bu.silakan aj bu klo ada yg prlu didiskusikan dengan senang ht siapa tau sy bs bantu
      wassalam

  3. Iin Haerani says:

    Assalamualaikum wr.wb. Saya lagi bingung. Anak saya juga pesantren di Darul Mutaqien kls 7 tapi dia ga betah, sakit-sakitan terus. apa bpk punya solusi ? trims.

  4. baidlowi ibn zainal arifin says:

    intinya.. buatlah anak kita menangis diwaktu kecil daripada kita sbg orang tua yg dibuat menangis oleh mereka kelak..

    dibuat menangis disini bukanlah berhubungan dengan hal yg negatif, namun sebaliknya..

    • rofiquez says:

      benar pak,mereka akan perlukan itu di saat yang mereka sendiri tidak tahu kapan menggunakannya.kesiapan itulah yang diperlukan.trimakasih sudah mampir pak.salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s