GURINDAM 12 PASAL, SEBUAH NASIHAT ABADI


Nama Raja Ali Haji (1808-1873) kukenal ketika masih duduk di bangku MTs (SMP) pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, melalui karya beliau “Gurindam Dua Belas Pasal”. Saat itu aku tidak menemukan bentuk utuh gurindam tersebut. Yang masih kuingat adalah pantun berisi nasihat-nasihat kehidupan yang tersusun dalam dua belas pasal. Sampai aku selesai sekolah bahkan kuliah tetap tidak menemukan gurindam dimaksud.

Kesan pertama yang kutangkap saat itu adalah mengapa seseorang yang memangku jabatan di pemerintahan mampu menghasilkan karya sastra yang begitu gemilang. Karya seorang seniman, entah sastrawan, penyanyi atau apapun, didasarkan pada pengamatan, penghayatan bahkan pengalaman dirinya dalam berinteraksi dengan lingkungannya, selanjutnya dituangkan dalam karya seninya seperti syair, novel, lagu ataupun gurindam. Maka bila seorang pejabat kerajaan mampu menulis gurindam jelaslah bahwa dalam kesehariannya beliau tidak sekedar duduk di singgasana tetapi rajin berinteraksi langsung dengan kehidupan rakyatnya. Suatu sikap pemimpin yang saat ini langka ditemukan.

Dalam kehidupan bangsa Melayu nasihat-nasihat dituangkan secara turun-temurun secara lisan dalam bentuk pantun, madah maupun gurindam. Nasihat tersebut terus diingat dan menjadi pedoman hidup yang terinternalisasi dalam pribadi individu. Barangkali Radja Ali Hadji ingin memberikan nasihat kepada rakyatnya. Ternyata tidak hanya bagi rakyatnya di Kesultanan Riau tetapi lebih luas kepada bangsa Melayu bahkan menjadi salah satu kebanggaan bangsa Indonesia. Pada makam beliau di pulau Penyengat Kepulauan Riau tertulis “Raja Ali Haji Bapak Bahasa Melayu Indonesia Budayawan Di Gerbang Abad XX” sekaligus beliau sebagai Pahlawan Nasional.

Pada suatu kesempatan mengisi pelatihan di Tanjungpinang bulan April 2010 lalu, penulis meluangkan waktu untuk berziarah ke makam beliau di pulau Penyengat. Pulau ini dapat ditempuh dari pelabuhan Sri Bintan Pura selama 20 menit. Dengan ongkos Rp. 5.000 sekali jalan Anda akan sampai di dermaga pulau Penyengat.

Di pintu dermaga angkutan benmor (becak motor) sudah menyambut dan siap mengantar Anda mengunjungi situs-situs peninggalan Kesultanan Riau di pulau “Kuning” ini. Ongkos? cuma Rp. 20.000. Angkutan ini merupakan satu-satunya alat transportasi di pulau Penyengat. Maksimal penumpang 3 orang (2 di kabin becak, 1 membonceng Abang benmor). Terutama di hari Jumat, Abang Benmor berpakaian khas Melayu.

Kembali ke Gurindam 12 Pasal. Hasil goresan pena RAH diabadikan dengan pahatan di komplek makam keluarga raja kesultanan Riau ini,  tepatnya di seputar dinding bagian dalam makam Raja Engku Hamidah. Berikut ini adalah bunyi Gurindam 12 pasal yang berhasil penulis rekam.

INILAH GURINDAM DUA BELAS

Karya Raja Ali Haji

Persimpanan yang indah-indah, yaitulah ilmu yang memberi faedah

Aku hendak bertutur akan gurindam yang beratur

Fasal Pertama

Barangsiapa tiada memegang agama

Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

Barangsiapa mengenal yang empat

Maka ia itulah orang yang ma’rifat

Barangsiapa mengenal Allah

Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

Barangsiapa mengenal diri

Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri

Barangsiapa mengenal dunia

Tahulah ia barang yang terpedaya

Barangsiapa mengenal akhirat

Tahulah ia dunia mudharat

Fasal Kedua

Barangsiapa mengenal yang tersebut

Tahulah ia makna takut

Barangsiapa meninggalkan sembahyang

Seperti rumah tiada bertiang

Barangsiapa meninggalkan puasa

Tidaklah mendapat dua termasya

Barangsiapa meninggalkan zakat

Tiadalah hartanya beroleh berkat

Barangsiapa meninggalkan haji

Tiadalah ia menyempurnakan janji

Fasal Ketiga

Apabila terpelihara mata

Sedikitlah cita-cita

Apabila terpelihara kuping

Khabar yang jatuh tiadalah damping

Apabila terpelihara lidah

Niscaya dapat daripadanya faedah

Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan

Daripada segala berat dan ringan

Apabila perut terlalu penuh

Keluarlah fiil yang tiada senonoh

Anggota tengah hendaklah ingat

Di situlah banyak orang yang hilang semangat

Hendaklah peliharakan kaki

Daripada berjalan membawa rugi

Fasal Keempat

Hati itu kerajaan di dalam tubuh

Jikalau zalim segala anggota pun rubuh

Apabila dengki sudah bertanah

Datanglah daripadanya beberapa anak panah

Mengumpat dan memuji hendaklah pikir

Di situlah banyak orang yang tergelincir

Pekerjaan marah jangan dibela

Nanti hilang akal di kepala

Jika sedikitpun berbuat bohong

Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung

Tanda orang yang amat celaka

Aib dirinya tiada ia sangka

Bakhil jangan diberi singgah

Itulah perompak yang amat gagah

Barangsiapa yang sudah besar

Janganlah kelakuannya membuat kasar

Barangsiapa perkataan kotor

Mulutnya itu umpama ketor

Di mana tahu salah diri

Jika tidak orang lain yang berperi

Pekerjaan ta’bur jangan direpih

Sebelum mati didapat juga sepih

Fasal Kelima

Jika hendak mengenal orang berbangsa

Lihat kepada budi bahasa

Jika hendak mengenal orang yang berbahagia

Sangat memeliharakan yang sia-sia

Jika hendak mengenal orang mulia

Lihat kepada kelakuan dia

Jika hendak mengenal orang yang berilmu

Bertanya dan belajar tiadalah jemu

Jika hendak mengenal orang yang berakal

Di dalam dunia mengambil bekal

Jika hendak mengenal orang yang baik perangai

Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai

Fasal Keenam

Cahari olehmu akan sahabat

Yang boleh dijadikan obat

Cahari olehmu akan guru

Yang boleh tahukan tiap seteru

Cahari olehmu akan isteri

Yang boleh menyerahkan diri

Cahari olehmu akan kawan

Pilih segala orang yang setiawan

Cahari olehmu akan abdi

Yang ada baik sedikit budi

Fasal Ketujuh

Apabila banyak berkata-kata

Di ditulah jalan masuk dusta

Apabila banyak berlebih-lebihan suka

Itulah tanda hampirkan duka

Apabila kita kurang siasat

Itulah tanda pekerjaan henak sesat

Apabila anak tiada dilatih

Jika besar bapanya letih

Apabila banyak mencela orang

Itulah tanda dirinya kurang

Apabila orang yang banyak tidur

Sia-sia sahajalah umur

Apabila mendengar akan khabar

Menerimanya itu hendaklah sabar

Apabila mendengar akan aduan

Membicarakannya itu hendaklah cemburu

Apabila perkataan yang lemah lembut

Lekaslah segala orang mengikut

Apabila perkataan yang amat kasar

Lekaslah orang sekalian gusar

Apabila pekerjaan yang amat benar

Tidak boleh orang berbuat honar

Fasal Kedelapan

Barangsiapa khianat akan dirinya

Apalagi kepada lainnya

Kepada dirinya ia aniaya

Orang itu jangan engkau percaya

Lidah yang suka membenarkan dirinya

Daripada yang lain dapat kesalahannya

Daripada memuji diri hendaklah sabar

Biar daripada orang datangnya khabar

Orang yang suka menampakkan jasa

Setengah daripada syirik mengaku kuasa

Kejahatan diri sembunikan

Kebajikan diri diamkan

Keaiban orang jangan dibuka

Kebaikan diri hendaklah sangka

Fasal Kesembilan

Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan

Bukannya manusia itulah syaitan

Kejahatan seorang perempuan tua

Itulah iblis punya punggawa

Kepada segala hamba-hamba raja

Di situlah syaitan tempatnya manja

Kebanyakan orang yang muda-muda

Di situlah syaitan tempat bergoda

Perkumpulan laki-laki dengan perempuan

Di situlah syaitan punya jamuan

Adapun orang tua yang hemat

Syaitan tak suka membuat sahabat

Jika orang muda kuat berguru

Dengan syaitan jadi seteru

Fasal Kesepuluh

Dengan bapa jangan durhaka

Supaya Allah tidak murka

Dengan ibu hendaklah hormat

Supaya badan dapat selamat

Dengan anak janganlah lalai

Supaya boleh naik ke tengah balai

Dengan isteri janganlah alpa

Supaya malu jangan menerpa

Dengan kawan hendaklah adil

Supaya tangannya jadi kapil

Fasal Kesebelas

Hendaklah berjasa

Kepada yang sebangsa

Hendaklah jadi kepala

Buang perangai yang cela

Hendaklah memegang amanat

Buanglah khianat

Hendak marah

Dahulukan hujah

Hendak dimalui

Jangan melalui

Hendak ramai

Murahkan perangai

Fasal Keduabelas

Raja muafakat dengan menteri

Seperti kebun berpagarkan duri

Betul hati kepada raja

Tanda jadi sebarang kerja

Hukum adil atas rakyat

Tanda raja beroleh inayat

Kasihkan orang yang berilmu

Tanda rakhmat atas dirimu

Hormat akan orang yang pandai

Tanda mengenal kasa dan cindai

Ingatkan dirinya mati

Itulah asal berbuat bakti

Akhirat itu terlalu nyata

Kepada hati yang tidak buta

**

Bila mau  ke pulau Penyengat, penulis sarankan agar berkunjung pada hari Jumat. Skedulnya, setelah berkunjung ke berbagai situs sejarah perjalanan ditutup dengan shalat Jumat. Nuansa kesultanan sangat kental pada ritual ibadah ini. Demikian pula jamaahnya ternyata bukan hanya penduduk setempat, tetapi banyak yang berasal dari luar pulau, baik yang memang sedang melancong ataupun sengaja shalat Jumat di sana.

Ruang dalam masjid diisi oleh jamaah pria. Untuk jamaah wanita disediakan dua buah gazebo di halaman masjid. Bagi Anda yang senang ‘jeprat-jepret’, tahan dulu keinginan untuk mengambil gambar ketika berada di ruang dalam masjid. Anda tentu tergoda untuk mengabadikan Al Quran tulisan tangan dari zaman Kesultanan Riau yang disimpan di box kaca. Tahan kuat-kuat daripada ditegur pengurus masjid.

Demikian semoga bermanfaat.

***

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Seni Budaya. Bookmark the permalink.

8 Responses to GURINDAM 12 PASAL, SEBUAH NASIHAT ABADI

  1. seni asiati says:

    Sastra itu nikmat yah Pak, saya mencintai sastra karena masuk ke hati dan memberi pembelajaran.

  2. rofiquez says:

    terimakasih sudah berkunjung dan silakan untuk meninggalkan komen Anda.

  3. rofiquez says:

    saya sangat senang posting ini banyak dikunjungi,smg bermanfaat bagi anda.saya akan sgt berterimakasih bila anda berkenan tuliskan komen disini

  4. Dalam kesibokan mengemas, sempat juga meluangkan masa untuk berkayuh sekitar Stadium Malawati pada waktu pagi dan petang.

  5. fidohhafidoh says:

    apakah yg berilmu termasuk aku….?
    sehingga tanda rahmat itu ada padaku…??? ( malu.com) lah diriku…

    syukron mas…aq sk skali gurindam 12 pasal, sarat dgn pelajaran unt kt smua.

    • rofiquez says:

      pastinya bgitu mba,buktinya mnjdi penerang di tanah papua.bnr…bnr mba,aq terkesan bgt wktu ksana n pngin balik maning…he..he..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s