DIBUAT UNTUK DILANGGAR?


Dalam sebuah lembaga diperlukan aturan yang mengikat seluruh komponen yang ada di dalamnya. Hak dan kewajiban setiap personilpun menjadi jelas. Peraturan ini dibuat untuk menciptakan sebuah sistem yang kondusif bagi perkembangan dan kehidupan lembaga itu.

Aturan tinggalah aturan

Peraturan tersebut dibuat untuk jangka waktu yang lama, selama roda lembaga itu masih berjalan. Namun terkadang aturan tinggalah aturan. Aturan ada tetapi pelanggaran tetap berjalan. Kenapa? Beberapa hal mungkin bisa diungkapkan.

Pertama, kurang seriusnya pengelola lembaga dalam menegakkan aturan. Penegakan aturan yang lemah mengakibatkan kedisiplinan sulit diciptakan. Pembiaran terhadap pelanggaran atau pemberian ganjaran yang tidak sesuai dengan tingkat pelanggaran mengakibatkan peraturan tidak ‘menggigit’. Apalagi bila ada standar ganda yang pemberlakuannya tergantung pada selera pengelola. Bila pelanggar masuk dalam ‘ring tertentu’ maka perlakuannya berbeda dibanding bila dilakukan oleh mereka yang berada di luar ‘ring’ tersebut. Lebih parah lagi bila ada label kebal hukum bagi kalangan tertentu bila melanggar. Lebih-lebih parah lagi bila aturan yang dibuat malah dilanggar sendiri.

Kedua, mengedepankan subyektifitas. Prinsip like and dislike sangat dekat dengan subyektifitas. Siapa yang dekat dengan pengelola dialah yang mendapat keuntungan dan kemudahan. Sebaliknya mereka yang jauh apalagi termasuk ‘persona non grata’ jauh dari harapan itu. Dengan mengedepankan prinsip obyektifitas peraturan dapat ditegakkan dengan baik. Untuk menjalankan hal ini diperlukan orang-orang  yang berhati bersih, mau mendengar dan mengambil tindakan secara bijak.

Ketiga, tidak ada reward and punishment yang jelas. Pemberian reward (penghargaan) terhadap pegawai yang tidak melanggar peraturan seringkali diabaikan, karena ada anggapan ‘memang pegawai seharusnya begitu’ alih-alih terhadap mereka yang berprestasi. Hal ini menimbulkan rasa kurang puas di kalangan pegawai karena jerih payahnya diabaikan. Demikian juga dengan punishment yang tidak menimbulkan efek jera hanya akan membuat peraturan seperti macan ompong. Namun harus diingat bahwa harus ada keseimbangan antara reward dengan punishment. Jangan sampai dengan mudah menjatuhkan hukuman sementara pelit dalam memberikan penghargaan. Kadangkala kesalahan sedikit menutup prestasi besar, atau bahkan dengan sengaja mencari kesalahan.

Dosa dan apatisme

Sikap menghargai pegawai yang memiliki kemampuan tidak bisa diabaikan begitu saja. Kemampuan yang dia miliki tentunya dapat didayagunakan untuk kemajuan lembaga. Jangan sampai dia berkibar di luar dan dapat memajukan orang lain sementara rumahnya sendiri terabaikan karena memang tidak ‘dianggap’. Kemudian hal ini diangkat dan diungkit di lain waktu sehingga seakan-akan menjadi dosa abadi yang tak terampuni.

Penegakan aturan  yang setengah-setengah menimbulkan apatisme di kalangan pegawai. Semangat mereka hanya sebatas melaksanakan tugas. Masalah idealisme yang memerlukan curahan pikiran dan tenaga ekstra hilanglah sudah. Ibarat penyakit yang sudah akut penyembuhannya memerlukan kerja keras dan memerlukan waktu yang panjang. Sungguh berat memang, tapi kalau tidak dilaksanakan akan semakin memperparah keadaan. Ibarat raga yang berjalan tanpa ruh, lembaga akan berjalan dengan hampa dan terseok-seok. Lembaga menjadi rapuh karena tidak ada lagi perekat antar komponen. Tidak ada kekuatan untuk menangkal rongrongan baik dari dalam apalagi dari luar. Sikap masa bodoh pegawai akan mengurangi keakraban  antar pegawai maupun antara pegawai dengan pengelola, bahkan akan menumbuhkan rasa saling curiga.

Solusi

Siapa yang salah? Sepertinya pertanyaan ini tidak perlu dilontarkan, karena akan menambah panjang perdebatan yang saling menyalahkan. Seperti halnya menanyakan telur ataukah ayam yang lebih dahulu ada. Hilangkan perdebatan tentang siapa yang bersalah, munculkan kesadaran untuk sama-sama melakukan perbaikan.

Akhirnya komunikasi harus dikedepankan untuk mengurai benang kusut ini. Kesadaran untuk saling terbuka dan menyadari kesalahan masing-masing sangat diperlukan. Bukan hanya itu, kebesaran jiwa untuk memperbaiki suasana di kapal tersebut harus dikedepankan kalau tidak ingin tenggelam bersama sementara sekoci tidak cukup. Kubur dalam-dalam ingatan akan kesalahan orang lain dan jangan diungkit lagi.

Mulailah menghargai orang lain, menghormati atasan dan yang penting tegakkan aturan secara fair akan tetapi kenyamanan bekerja tetap terjaga. Tempatkan seseorang pada posisinya sesuai kompetensi.

Akhirnya, janganlah ada lagi peraturan yang dibuat hanya untuk dilanggar, untuk apa dibuat kalau begitu. Wallahu a’lam bissawab. Wassalam.

***

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Rupa-rupa. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s