PAI TIDAK AJARKAN RADIKALISME


Teror bom Serpong memunculkan fenomena baru, bahwa pelaku berasal dari perguruan tinggi Islam. Pepi Fernando, alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah Ciputat adalah contohnya. Lagi-lagi hal ini membuat PT Islam ini kembali dipandang sinis setelah penggerebekan rumah kost di Ciputat terkait teror bom beberapa waktu yang silam. Benarkah institusi ini mengajarkan terorisme?

Sebagai alumnus perguruan tinggi tersebut, saya menolak anggapan tersebut. Pasalnya selama kuliah di sana tidak satupun matakuliah atau bahkan silabusnya memuat ajaran yang berbau terror atau apapun yang mengakibatkan kerugian di masyarakat. Mata kuliah keIslaman menjadi mata kuliah dasar umum (MKDU) yang harus dipelajari mahasiswa semua fakultas dan jurusan. Mana ada sih ajaran Islam yang mengajarkan teror?

“Islam yang diajarkan di UIN adalah Islam mainstream. Kendatipun demikian ini menjadi PR bagi pimpinan UIN untuk membina mahasiswa sampai di luar kampus”, demikian dikatakan Prof. Nazarudin Dirjen Bimas Islam Kemenag pada dialog di sebuah stasiun TV.

Interaksi dengan pihak lain dianggap sebagai pemicu paham tersebut. Kasus Pepi sangat individual, artinya dari ribuan alumni UIN hanya bebeapa orang yang terjebak paham Islam radikal.

“Kalaupun ada alumnus yang berlaku demikian, dapat dipastikan paham tersebut diperoleh di luar kampus melalui interaksi dengan pihak-pihak lain”, demikian dikatakan Ace Hasan mantan ketua BEM semasa Pepi kuliah pada wawancara di sebuah stasiun TV. Setelah itu dengan kelabilan jiwa mereka paham terror tersebut berkembang dengan subur dalam benaknya yang kemudian diwujudkan dalam tindakan yang merugikan.

Mungkin hal ini menjadi pekerjaan besar lagi bagi Prof. Dr. Dede Rosyada, MA yang sebelumnya pernah road show ke Australia untuk menegaskan bahwa kurikulum pendidikan agama dan kurikulum UIN tidak mengajarkan teror.

Rohis

 

Demikian pula kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di tingkat dasar dan menengah, tidak ada satu butirpun yang memuat apalagi mengajarkan terror. M. Syarif, pelaku bom Cirebon dan beberapa pelaku lainnya dikabarkan pernah tercatat sebagai aktifis rohis (kerohanian Islam) semasa SMA. Bila kegiatan rohis mengacu pada Standar Isi dipastikan tidak ada ajaran radikalisme. Akan tetapi terkadang sekolah mempercayakan rohis kepada alumni. Hal inilah yang harus diwaspadai sebagai pintu masuknya paham radikal tersebut. Untuk itu diperlukan kontrol dari GPAI dan sekolah. Untuk menghindari hal tersebut sebaiknya kendali rohis tetap dipegang GPAI.

Oleh karena itu Kementerian Agama (Kemenag) tetap belum mau melakukan revisi terhadap kurikulum pendidikan agama. Sebab, kurikulum yang dipakai sekarang ini sudah proporsional dan tidak mengajarkan radikalisme.

Di http://www.jpnn.com Menag Suryadarma Ali mengatakan, perlu penegasan dan pembedaan yang jelas antara rekrutmen dan pendidikan agama radikal. Rekruitment kelompok radikal sudah terlepas dari institusi pendidikan keagamaan. Selain itu, perekrutan bisa terjadi kepada siapapun.

“Ini rawan kesusupan paham radikal karenanya perlu dipikirkan kembali bagaimana mencegahnya,” ungkap Suryadarma (24/4).

Tambah Jam Belajar

Hanya saja, lanjut Menag, jam pelajaran pendidikan agama di sekolah, terutama sekolah umum harus ditambah. Sekarang ini, mata pelajaran agama hanya diberikan jatah 2 jam (1 jam pelajaran 45 menit) setiap minggunya. “Ini yang membuat pengetahuan agama siswa kurang. Mereka jadi mudah disusupi paham-paham radikal berbau Islam,” ucap Suraydarma.

Untuk membendung arus radikalisme, lembaga pendidikan harus bisa mencegah peserta diidiknya keluar dari prinsip keagamaan, sehingga siswa tidak mudah disusupi paham tertentu, misalnya Negara Islam Indonesia (NII),  demikian lanjutnya. Menurutnya, konsep NII tidak cocok di Indonesia, apalagi cara pengembangannya dengan kekerasan dan teror. Sejak dulu, para pendiri bangsa sudah sepakat Indonesia negara Pancasila bukan Islam.

“Idiologi NII tidak mungkin hilang 100 persen. Sebagai sebuah bahaya laten NII akan tetap eksis, bahkan menggalang kekuatan hingga menjadi akumulasi gerakan yang susah dibendung. Disinilah fungsi intelijen negara,” tegasnya.

Suryadarma menegaskan, pihaknya menanggapi seius isu radikalisme di lembaga pendidikan. Beberapa waktu lalu, hasil penelitian Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LAKIP) menyebutkan, 62,7 persen guru Pendidikan Agama Islam menolak rumah ibadah muslim di lingkungannya.

Hal serupa juga diungkapkan siswa, hanya saja jumlahnya lebih sedikit yaitu 40,7 persen. Survei tersebut dilakukan kepada 590 dari total 2.639 guru Pendidikan Agama Islam dan 993 siswa Muslim dari total 611.678 murid SMA se-Jabodetabek. “Kalau ada guru yang mengajarkan radikalisme akan kita tanggapi. Kita akan mengkaji hasil penelitian tersebut,” ucapnya. 

 

Tolak penelitian LAKIP

 

Terhadap hasil penelitian LAKIP tersebut terdapat beberapa pihak yang menolaknya. Diungkapkan pada Seminar AGPAII di MAN Insan Cendekia Serpong (02/04/2011) M. Edi Suharsongko GPAI SMAN 4 Tangsel menolak mengisi kuesioner yang diberikan kepadanya.

“Alternatif jawaban hanya “ya” dan “tidak” padahal ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan pilihan tersebut”, tegas Edi. Menanggapi Edi, Prof. Dede Rosyada salah seorang narasumber mengungkapkan hal yang sama.

“Ukuran yang digunakan tidak jelas”, demikian ujar dekan FTIK UIN Jakarta ini.

Ketidakjelasan penelitian tersebut juga tampak dari sampel yang diambil. Dengan hanya mengambil 590 dari 2.639 GPAI berarti LAKIP hanya mengambil 22,3% guru. Demikian pula sampel siswa, berarti LAKIP hanya mengambil sampel 0,16% dari populasi. Dengan demikian sampel tidak dapat dijadikan representasi populasi.(rof)***

Sumber : www.jpnn.com dan sumber lainnya

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Pendidikan. Bookmark the permalink.

2 Responses to PAI TIDAK AJARKAN RADIKALISME

  1. M Mursyid PW says:

    Islam agama suci. Sy juga sangat gemes kalau ada yang mengatakan Islam identik dengan kekerasan dan atau teroris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s