Trans Sulawesi


Setelah tergopoh-gopoh di perjalanan, sampailah aku di bandara Sultan Babullah Ternate. Ruang tunggu penuh sesak oleh calon penumpang ke berbagai tujuan. Panggilan demi panggilan terbang terdengar, seiring dengan itu makin berkurang pula calon penumpang yang semula menyesaki ruang itu. Akupun duduk di bangku paling depan, sengaja supaya tidak ketinggalan pesawat. Sejurus kemudian pak Sulaiman muncul didepanku, beliau minta maaf karena ada keluarga yang meninggal maka tidak sempat mengantarku. Setelah ngobrol sana-sini, kamipun harus berpisah karena panggilan untuk penerbanganku ke Gorontalo via Manado terdengar.

Ah mengapa pula pake mampir ke Gorontalo. Oke, biar kujelaskan. Sebulan yang lalu temanku sesama tim pusat mengisi pelatihan di Kanwil Kemenag Gorontalo, sayangnya ada data penting yang tertinggal di Jakarta. Maka sekalian ke Ternate aku berniat mengantarkan data tersebut ke sana. Kedua, ada beberapa guru yang mau menerima ilmu penerapan ICT dalam pembelajaran yang (kebetulan) aku punya sedikit ilmunya. Mulia tho…? (Wuihh…narsis tralala…).

**

Cuaca agak mendung ketika aku memasuki twin otter Wings. Cukup surprise karena baru kali ini aku naik pesawat “kecil” dibanding pesawat yang biasa kunaiki. Tidak lama kemudian pesawat berbaling-baling ini sudah melayang menyeberangi lautan menuju Manado. Melihat hamparan lautan di bawah sana hati berdesir, miris membayangkan seandainya tiba-tiba pesawat melayang tanpa kendali maka hilanglah di telan lautan. Benar-benar perjalanan naik pesawat harus disertai penyerahan diri secara total kepada Yang Maha Menggenggam Jiwa. Serahkan jiwa dan raga kepadaNya, biarlah Dia yang menjaganya.

Hamparan nyiur melambai-lambai menyambut kedatangan pesawat kecil itu. Baru kali ini aku akan menginjakkan kaki di tanah Minahasa. Segera ingatanku melayang pada saat sekolah dulu pernah belajar Kulintang, alat musik khas Minahasa dan lagu ‘O ina ni keke’ yang sangat aku hafal. Si burung besi mungilpun mendarat dengan mulus.

Transit. Setelah melapor ke petugas ku mencari PW (posisi uuwweenak) untuk istirahat. Namun mendekati jadwal terbang belum terdengar panggilan apapun. Sementara situasi di luar hujan cukup deras, akupun khawatir bila penerbangan ditunda.

Seperti biasa, aku tidak betah kalau diam. Untuk membunuh sepi aku ngobrol dengan teman seperjalanan, seorang ibu dengan dua anaknya. Kebetulan beliau dari Gorontalo, maka obrolanpun seputar situasi di daerah itu. Dia baru berlibur di rumah orangtuanya di Ternate bersama kedua anaknya, suaminya tidak ikut karena sibuk di kantor. Bukan sang ibu yang menarik perhatianku, tapi tingkah laku kedua anaknyalah yang mengingatkanku pada kedua anakku ketika masih seumur mereka dan kebetulan sama-sama lelaki keduanya. Mereka saling berebut mainan dan si adik menangis sementara kakanya tidak peduli dengan tangisan adiknya. Aku tersenyum melihat mereka.

“Ah aku seperti melihat Adi dan Ade berebut sesuatu”, pikirku mengenang kedua anakku yang kini beranjak remaja.

“Ya seperti itulah pak mereka sehari-hari”, ujar sang ibu mengomentari anaknya.

“Memang sedang masanya bu, mereka sedang eksplore”, jawabku sok tau.

Apa yang menjadi kekhawatiranpun terjadi. Pengumuman pertama menyatakan penerbangan delay (ditunda) sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Sekitar satu jam kemudian terdengar pengumuman bahwa penerbangan cancelled (dibatalkan). Penumpang menggerutu. Alamaakk, batal sudah rencana malam mingguan di Gorontalo……. Positive thinking aja, ada sesuatu dibalik cancelled ini.

“Ibu mau naik apa setelah penerbangan dibatalkan?”, tanyaku pada travelmateku tadi.

“Saya mau menginap di rumah saudara. Bapak bagaimana?”, dia balik bertanya.

“Rencana mau naik travel bu, karena besok pagi ada acara di Gorontalo. Jadi malam ini juga harus jalan”.

Kamipun berpisah. Aku segera menuju loket Lion Air untuk menukar tiket Manado-Gorontalo dengan uang cash.

**

Beberapa penumpang lain sudah sampai di loket. Sebagian mereka menuntut kompensasi pembatalan, ada yang minta 2 kali lipat dari harga tiket, ada yang minta menginap di hotel atas tanggungan Lion dan sederet permintaan lainnya. Biarlah mereka minta begitu, aku cuma butuh uang tiket dikembalikan untuk ongkos travel ke Gorontalo dan besok pagi harus sudah sampai di sana, titik. Alhamdulillah urusanku lancar. Aku segera menghubungi teman di Gorontalo dan pejabat kantor wilayah tentang pembatalan ini. Ya aku harus melapor ke pejabat setempat karena aku akan mengantar data penting ke kantornya. Tentu saja tanya tentang hotel tempatku akan menginap.

Ini adalah perjalanan pertamaku ke daerah ini, harus pakai travel pula. Tentang Gorontalo aku tidak begitu asing karena setahun yang lalu pernah ke sini. Beruntung aku pernah menyertai perjalanan seorang teman via dunia maya dalam perjalanannya dari Manado ke rumahnya di Gorontalo. Ya, kurang lebih sebulan yang lalu dia naik travel Manado-Gorontalo, sementara kontak denganku terus tersambung sambil kutelusuri perjalanannya via Google Earth.

Setelah memprovokasi beberapa calon penumpang untuk naik travel, kamipun segera berangkat bertujuh menuju Gorontalo. Hujan deras melepas keberangkatan kami. Surprise kedua, ternyata kali ini aku berkesempatan menyusuri jalan darat Trans Sulawesi yang sebelumnya hanya kubaca di media massa.

Menurut Google Map di hpku perjalanan sepanjang 413 km 1tu akan ditempuh selama 5 jam 44 menit. Jadi mobil harus melaju rata-rata sekitar 70 km/jam. Tapi aku kurang yakin akan sampai di Gorontalo secepat itu. Pasti tergantung situasi di jalan seperti kondisi lalu lintas, cuaca dan tentu saja kondisi jalan. Temanku saja butuh waktu 8 jam untuk sampai di rumahnya. Jadi kalau berangkat dari Manado pukul 19.00 akan sampai di Gorontalo sekitar subuh besok pagi. Ah, acara jam 08.00 besok pagi masih terkejar.

Sekalipun tidak berkenalan secara khusus aku mengenali beberapa teman seperjalanan, 3 orang dosen UNG (Univ. Negeri Gorontalo) yang baru pulang musker di Manado, 2 orang gadis (mahasiswa dan karyawati) dan seorang wirausahawan. Di kendaraan kami berusaha untuk saling menyambung obrolan sehingga tidak lama kemudian suasana menjadi hangat karena nasib yang sama.

Aku menyiapkan diri menikmati jalur ini sementara diluar hujan dan gelap. Deretan pepohonan hutan selepas Manado tertangkap mata dengan warnanya yang lebih gelap di kiri dan kanan jalan, sementara dari gerak zig-zag mobil menandakan rute jalan berbelok-belok dengan beberapa bagian yang rusak.Kijang kapsul itupun membelah malam menyusuri jalan Trans Sulawesi. Kendaraan yang ditemui di jalan rata-rata mobil sewaan/travel selebihnya truk angkutan.

Badan jalan dengan lebar dua mobil dengan beberapa ruas dalam kondisi rusak memaksa mobil sewaan ekstra hati-hati. Belum lagi ada sistem buka tutup di sebuah jembatan yang sedang diperbaiki, jembatan darurat terbuat dari batang pohon kelapa. Belum lagi beberapa truk angkutan berat parkir di pinggir jalan karena pengemudinya beristirahat atau mengantuk. Mobil sewaankupun terhitung dua kali istirahat karena pengemudinya mengantuk.

Dari pagi perut hanya terisi nasi bungkus kompensasi delay waktu ashar tadi, sampai saat ini belum ada yang masuk. Sekitar pukul 24.00 kami istirahat di RM. Gorontalo yang ternyata masih di wilayah Sulawesi Utara. Masakan sudah dingin berupa nasi, cah kangkung dan ikan bubara. Alhamdulillah masih ketemu nasi.

***

Perjalanan dilanjutkan, rasa kantukpun datang lagi. Aku terbangun ketika temaram pagi mulai datang di tengah hutan jalan Transul di daerah Gorontalo. Selanjutnya melewati danau yang sudah kukenal, danau Limboto. Geliat kota Gorontalo mulai terasa. Akhirnya sampailah di hotel Mutiara di dekat terminal 88 jalan Andalas Gorontalo.

***

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Rupa-rupa. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s