Menyusuri Ternate


Cukup kaget juga ketika melihat jam terbangku ke Ternate pada pukul 00.30, sebab sebelumnya selalu terbang siang, kalaupun malam maksimal jam 20.00. Akhirnya Sriwijaya Air terbang tepat waktu. Setelah transit di Makassar pesawat landing dengan mulus di Ternate pada pukul 07.00 WITA. Hah, alhamdulillah satu lagi provinsi di negeri tercinta aku sambangi. Dengan mengucap syukur tiada terhingga kujejakkan kakiku di bandara Sultan Babullah Ternate. Kedatanganku di Ternate dalam rangka melatih tim penyusun USBN PAI provinsi Maluku Utara.

Tak dinyana pejabat Kanwil Malut yang kuhubungi ternyata juga baru tiba dari Jakarta sekitar 10 menit kemudian setelah pendaratanku. Setelah bertemu akupun diantar ke hotel tempatku menginap. Sekalipun di pesawat hampir tidur sepanjang penerbangan, tetap saja badan terasa letih dan butuh istirahat. Akhirnya di pagi sampai siang itu kuhabiskan untuk istirahat sambil merencanakan menyeberang ke Tidore setelah dzuhur nanti. Rencana tinggal rencana karena hujan turun deras, jadilah seharian penuh istirahat di kamar hotel sambil telpon sana-sini. Itulah hubungan dengan dunia luar yang bisa dilakukan karena tidak dapat terhubung dengan internet, modem Smartku tidak berfungsi.

Hari kedua adalah acaraku mengisi pelatihan penyusunan soal USBN PAI bagi tim penyusun soal provinsi Maluku Utara (lihat posting Pelatihan Penyusunan Soal USBN PAI di Ternate).

Kemarin setelah pelatihan selesai, pak Suyatno (asal Solo) salah seorang peserta SD siap mengantarku keliling Ternate.Tawaran ini kusambut baik, bahkan ketika kusampaikan keinginanku ke Tidore, beliau siap mengantar. Dengan sepeda motornya aku diantar menyusuri kota Ternate. Rencana menyeberang ke Tidore kubatalkan mengingat cuaca yang mudah berubah. Dalam benakku terbayang apa jadinya bila ketika harus kembali ke Ternate ternyata cuaca buruk. Wah bisa batal terbang ke Gorontalo.

Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan menawan seperti tepian pantai, perkampungan nelayan dan pasar tradisional khas Ternate. Bagiku semua ini pengalaman yang sangat berharga dan semakin menyadari betapa kayanya negeriku ini. Aku dibawanya ke istana kesultanan Ternate. Istana yang terletak di seberang alun-alun ini masih menyisakan kemegahan dan kejayaan kesultanan Islam masa lalu. Warna kuning istana berpadu dengan kehijauan gunung Gamalama yang anggun ‘memangkunya’. Dua penjaga gerbang menerimaku dengan ramah. Karena istana belum buka aku harus puas berkeliling di halaman depan sambil mencoba merekonstruksi bagaimana hiruk-pikuk para prajurit dan penghuni istana berinteraksi pada masanya.

Istana terletak di dataran tinggi menghadap ke arah laut sehingga pemandangan dari depan istana ke berbagai arah cukup leluasa. Ke arah depan pulau Halmahera terlihat jelas di seberang sana seperti raksasa yang sedang berbaring. Pemandangan ke arah kiri didominasi perumahan penduduk, sedangkan ke arah kanan berdiri gedung-gedung pemerintahan. Tangga berlantai merah mengantar pengunjung masuk ke dalam istana. Halaman istana yang berhampar rumput hijau membuat mata terasa sejuk. Sementara itu tepat di depan tangga utama berdiri tiga tiang bendera, sang saka merah putih diapit oleh panji-panji kesultanan.

Perjalanan dilanjutkan mengelilingi pulau Ternate. Agak sedikit heran karena di tengah perjalanan kerap menemui penduduk setempat mengadakan pesta hajatan dimana tendanya menutup jalan umum, akibatnya pengguna jalan harus memutar ke arah lain. Menurut pak Suyatno memang sudah menjadi kebiasaan di sana seperti itu termasuk tenda di keluarga yang sedang berdukapun demikian. Hal ini terlihat di jalur ke bandara terdapat tenda yang terpasang menutup setengah jalan raya dan sudah berlangsung sejak seminggu yang lalu. Wahhh….

Pemandangan di luar kota Ternate lebih menakjubkan lagi. Melewati proyek pembangunan bandara seperti di sebuah benteng raksasa karena pondasi pengurugan tanah landasan sedang berlangsung. Beberapa kilometer setelahnya aku terpaku melihat hamparan bebatuan berwarna hitam. Menurut pemanduku bebatuan itu merupakan batu vulkanik yang berasal dari lahar letusan gunung Gamalama yang meletus pada awal abad ke-18. Seperti kembali ke masa lalu ketika berusaha membayangkan kedahsyatan letusan gunung yang menjaga  Ternate berdiri kokoh di latar belakang.

Perjalanan diakhiri di pantai Sumalaha, sebuah pantai yang cukup rama dikunjungi penduduk setempat untuk berlibur. Sebagian pantai dipenuhi oleh bebatuan sebagian lagi berupa hamparan pasir landai. Panjang pantai sekitar 3 km, memang tidak terlalu panjang. Karena di hotel tidak sempat sarapan, di pantai itu kami menikmati semangkuk mie instant dan pisang goreng yang berteman dengan sambal, sekedar mengganjal perut.

Perjalanan keliling pulau kubatalkan ketika jam menunjuk angka 10 ketika di Sumalaha, sebab jam 12 siang nanti harus check in untuk melanjutkan perjalanan ke Gorontalo. Sambil pulang kami mampir ke benteng Tolukko dan ke masjid Al Munawwar, masjid kebanggan masyarakat Ternate.

Benteng Tolukko merupakan pertahanan kesultanan Ternate dalam menghadapi Portugis. Benteng ini terletak di tengah perumahan penduduk di sebuah areal yang cukup tinggi sehingga sangat ideal untuk mengintai pergerakan musuh di perairan. Material utama benteng Tolukko adalah batu-batu karang yang disemen dengan getah kayu, demikian dikatakan pak juru kunci benteng. Sebenarnya di bawah benteng terdapat ruang bawah tanah namun sudah lama ditutup. Dokumentasi selengkapnya dapat dilihat di ruang informasi yang terletak di depan benteng.

Masjid Al Munawar tergolong masih baru karena diresmikan tahun 2010 oleh Menteri Agama. Masjid ‘hijau’ ini terletak di pantai reklamasi dan bersentuhan langsung dengan laut, bahkan dua menarannya ‘tertancap’ di laut. Bila Anda akan mendarat masjid ini terlihat dari pesawat. Ruang dalam sangat nyaman dan sejuk dengan hembusan angin laut.

Agak tergesa-gesa aku naik ojek ke bandara karena waktu menunjuk angka 12 lewat dengan ongkos Rp. 25.000,-. Aku melanjutkan perjalanan ke Gorontalo transit di Manado menggunakan pesawat berbaling-baling dengan jumlah seat sekitar 60. Kejutan kedua yakni naik pesawat kecil. Bye Ternate…semoga suatu saat berkesempatan berkunjung lagi.

***

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Rupa-rupa. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s