Andai Waktu Bisa Diputar Ulang


Bulan Juli 2010 ada sebuah email masuk yang menarik perhatianku. Setelah kubuka ternyata dari salah seorang muridku di SMP sekitar tahun 1995, sebutlah namanya Ninuk. Aku ingat betul waktu Ninuk kelas 1 aku adalah wali kelasnya. Selama jadi wali kelas  baru saat itulah anak perwalianku jadi juara umum. Pada perjalanan selanjutnya ternyata dia tidak menamatkan SMPnya. Saat itu aku kaget karena ketika di awal kelas tiga dia keluar tanpa sebab yang jelas. Sampai beberapa tahun kedepan pertanyaan itu belum terjawab.

Akhirnya melalui facebook dan email kami berkomunikasi. Banyak hal yang ia ceritakan, tapi ada beberapa hal yang dia mau ceritakan hanya kalau ketemu langsung denganku.

Rupanya keinginan itu terwujud. Kusampaikan kepadanya bahwa awal Desember ini aku ada tugas ke Denpasar. Dia sangat gembira dan meminta kesediaanku untuk bertemu. Akupun menerima undangan makan malamnya sekaligus diperkenalkan dengan keluarganya.

Belum lama timku sampai di hotel, Ninuk menjemputku dengan mobilnya, dia sendiri yang menyetir. Dengan tidak mengurangi rasa hormat aku minta izin kepada pejabat Kanwil yang akan mengantar timku menikmati suasana Denpasar. Akupun dibawanya ke sebuah cafe di pantai Sanur,  banyak wisatawan asing berada di cafe tersebut. Aku mengikutinya ke sebuah meja yang di sana sudah duduk dua orang bule yang ternyata adalah suami dan anak Ninuk. Perkenalan berlangsung dengan akrab. Dengan bahasa Inggris pas-pasan akupun ngobrol dengan mereka. Kesanku mereka sangat  familiar.

Ninuk rupanya memiliki beberapa usaha. Sebuah cafe dan butik di sebuah toserba yang banyak dikunjungi wisatawan asing sudah dia miliki. Dia ceritakan juga awal usahanya hingga keadaan seperti sekarang. Dengan usaha seperti itu, Ninuk sudah bisa dikatakan sukses, dia hanya mengontrol putaran usahanya melalui beberapa karyawannya.

Kunjungan berikutnya adalah rumahnya yang asri dengan nuansa etnik Bali. Di sana Ninuk tinggal bersama dengan keluarganya yang berasal dari Belanda. Akupun berkenalan dengan keluarganya. Tidak lupa Ninuk mengajakku melihat-lihat koleksi benda-benda seninya. Berbagai lukisan, cindera mata dan benda seni lainnya tertata di rumahnya. Hampir setiap detil lukisannya dia faham dan diceritakan padaku.

“Bapak kan guru kesenian saya, jadi saya ingin perlihatkan ini pada Bapak”, ujarnya. Memang saat itu aku mengajar kesenian.

Pada saat mengantarku kembali ke hotel Ninuk menumpahkan unek-unek yang telah dipendamnya selama lima belas tahun. Bahwa dia keluar sekolah bukan karena masalah biaya, sekalipun saat itu keluarganya dalam keadaan sulit, melainkan karena sikap seorang guru yang membuatnya patah arang hingga bersumpah tidak akan sekolah.

“Tapi bukan bapak lho”, ujarnya sambil menyebut nama seorang guru. Aku cukup terhenyak mendengan nama itu.

“Dialah yang menghancurkan masa depan saya dengan mengeluarkan saya dari sekolah tanpa alasan yang tidak saya pahami. Maaf lho pak kalau nggak enak didengar. Efek dari peristiwa itu saya jadi benci guru, tapi selain Bapak karena saya menganggap Bapak sebagai ayah saya yang kedua.”

Ah…aku menyesal juga kenapa masalah ini baru tahu 15 tahun kemudian. Mengapa saat itu aku tidak mencari tahu sehingga dapat menolongnya.

Sungguh perjalanan ini menjadi perenungan bagi diriku, bahwa ternyata banyak perbuatan kita di hadapan siswa yang tidak pada tempatnya sehingga menimbulkan kesan yang tidak baik bagi mereka. Baik disadari atau tidak. Sikap superior kita kadang ditunjukkan secara arogan seakan-akan kitalah pemilik jiwa dan raga anak didik dan kita merasa puas bila berhasil mematahkan keinginan dan “kenakalan mereka”. Sementara mereka merasa jengkel dengan perbuatan kita dan meninggalkan bekas yang mendalam. Kesan yang diperoleh akan mereka ceritakan kepada tetangga, anak dan orang lainnnya.

Ah…seandainya waktu bisa diputar ulang…..mungkin masih ada waktu…

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Rupa-rupa. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s