Kopi “O”


Daerah baru selalu menarik perhatian, tidak lain karena kekhasannya yang menjadikannya berbeda dengan daerah lain. Begitupun dengan Tanjungpinang. Kota multietnis ini mempunyai daya tarik tersendiri. Hampir semua etnis yang ada di Indonesia ada di kota ini meskipun dalam prosentase kecil. Etnis Jawa, utamanya Jawa Timur cukup banyak di kota ini, etnis lain misalnya Bugis, Flores dsb.

Etnis Melayu merupakan penduduk asli tetapi mereka telah lama berbaur dengan etnis Cina. Di sini kita dapat dengan mudah menyaksikan etnis Cina membuka usaha kecil seperti warung makanan, pedagang ikan dan gorengan di pinggir jalan, sedangkan sebagian yang lain adalah tauke-tauke pemilik usaha besar seperti toko, hotel bahkan juragan kapal. Bila pernah ke Hongkong barangkali Tanjungpinang adalah salah satu Hongkongnya Indonesia dalam hal besarnya komposisi etnis Cina di sebuah wilayah. Terlebih lagi bila kita berjalan-jalan di daerah pusaran ekonomi seperti pusat pertokoan dan pasar, seperti itulah yang saya lihat.

Pergeseran jadwal acara membuat saya agak leluasa menyusuri kota Tanjungpinang. Pak Sugeng mengajakku menyusuri pasar ikan, kenapa tidak? Setelah memarkir mobil kami berjalan kaki memasuki gang-gang sempit. Beberapa hal yang asing ditunjukannya seperti telur penyu rebus yang konon mempunyai kandungan protein tinggi. Sekalipun sudah direbus bagian putihnya tetap cair tidak seperti telur ayam atau telur bebek yang membeku, jadi bagian itu yang juga dimakan. Aku ditawari mencoba tapi rasanya nggak sampai hati memakannya.

Selain itu ada lontong usus, sayangnya aku kurang selera karena perut masih penuh. Tidak lama berjalan pak Sugeng¬†menunjuk beberapa warung kopi yang hampir semua bangkunya dipenuhi pengunjung. Menurut pak Sugeng warga Tanjungpinang senang menghabiskan waktu sekedar kongkow-kongkow sambil ngopi. Memang hampir di semua warung kopi yang saya lewati dikunjungi oleh kaum lelaki dewasa sampai usia lanjut. Rasanya waktu berhenti di warung ini. Sebagai penikmat kopi sejati aku tergoda untuk mencoba apa sih enaknya ngopi di warung itu. Rupanya pak Sugeng membaca pikiranku, “Nanti pak kita mampir diwarkop tadi”, nah… itu yang kutunggu.

Perjalanan dilanjutkan menuju pasar ikan, kami melewati sebuah gang yang diatasnya digantungkan lampion-lampion merah khas Cina, serasa di Chinatown. Di kota ini tidak ada TPI (Tempat Pelelangan Ikan), ikan yang baru mendarat langsung dibeli oleh agen yang kemudian dijual eceran. Berbagai macam ikan nampak masih segar seperti teri, baronang, selar bahkan hiu berukuran sekitar 50 cm. Setelah puas menyusuri pasar ikan kamipun pulang.

***

Pada perjalanan pulang kami mampir di sebuah warung kopi. Wah ini yang ditunggu sang penikmat kopi sejati. Kebetulan masih tersisa satu meja yang berisi empat kursi, kamipun bergegas menghampiri takut keduluan pengunjung lain. Cangkir bekas kopi buru-buru diambil pelayan pertanda bahwa warung ini ramai pengunjung.

“Minta kopi O (huruf) dua ya…”, pesan pak Sugeng. Ungkapan O artinya kopi hitam tanpa campuran susu atau lainnya. Seperti di Batam kalau kita pesan “teh O” artinya teh tawar, kalau “teh O beng” berarti es teh manis.

Sambil menunggu kopi datang diam-diam aku memperhatikan cara meracik kopi. Apa yang istimewa? Dengan sangat terlatih babah Tionghoa pemilik warung meracik kopi, pertama dia mengambil setakar kopi dari wadah tertutup, menurut pak Sugeng bubuk kopi itu digiling sendiri setelah disimpan beberapa lama  di dalam karung goni, semakin lama disimpan semakin matap pula rasanya. Beberapa peralatan pembuat kopi terlihat asing di mataku.

Dalam sekejap secangkir kopi panas super hitam kental sudah terhidang di meja. Ups… jangan buru-buru diaduk. Gula putih masih utuh di sendok teh yang tercelup di dalam kopi, kita bisa mengatur tingkat kemanisan kopi dengan mengurangi atau menambah gula yang ada di sendok tersebut. Karena aku lebih suka kopi yang agak pahit (karena ku sendiri sudah manieezzzz…) maka aku mengurangi gula putih. Sambil menikmati hidangan kecil kami ngobrol sekitar dunia perkopian di Tanjungpinang. Benar-benar menambah wawasan perkopian bagiku. Kota ini menyimpan perbendaharaan kuliner yang luar biasa, ini tidak bisa dilepaskan dari kekayaan multietnis yang dimilikinya. Tidak terasa hari merambat siang, waktupun kembali bergerak ketika kami meninggalkan warung kopi itu.

****

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Rupa-rupa. Bookmark the permalink.

2 Responses to Kopi “O”

  1. seru juga sepertinya di tanjung pinang.. salah satu tempat yang ingin saya kunjungi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s