Dua Setengah Persen


Akhir tahun identik dengan kesibukan yang bertumpuk. Mulai dari koreksi hasil ujian sampai tugas-tugas mendadak yang tidak kalah mendesaknya untuk diselesaikan. Terkadang sulit memilih mana yang harus dikerjakan dan diselesaikan terlebih dahulu. Sepulang dari menyelesaikan penyusunan buku di Puncak saya harus berhadapan dengan kertas-kertas ujian yang harus dikoreksi. Akupun bergegas ke sekolah untuk mengambilnya, Rifka anakku merengek minta ikut. Menyadari telah empat hari aku tinggal, diapun kuajak sekedar menambah obat kangen.

Sebelum meninggalkan kantor, Bendahara sekolah memanggilku untuk menerima honor koreksi (inilah asyiknya…belum kerja sudah digaji). Kembali anakku ikut nimbrung di depan Bendahara dan menyaksikan aku menandatangani daftar terima. Dalam perjalanan pulang anakku bertanya,

Yah,tadi itu uang apa?”,aku kaget sekalipun dia sering mengajukan pertanyaan kritis sebelumnya.

“Ah, bukan uang apa-apa…”, jawabku acuh tak acuh. Rupanya dia tidak puas dengan jawabanku yang sekenanya.

“Nggak mungkin Ayah dikasih uang kalau gak ada apa-apanya (maksudnya nggak ada sebab)”.

“Ya… deh….tadi itu uang honor kegiatan ujian seperti mengawas, bikin soal dan koreksi. Ayah sudah ngawas, bikin soal dan sekarang harus mengoreksi. Nah uang itu untuk membayar Ayah”.

“Ooo begitu….”, dia tampak puas dengan jawaban yang panjang lebar.

Percakapan sepanjang perjalanan pulangpun berganti topik seputar kegiatannya selama empat hari kutinggal.

**

Sesampai dirumah pikiranku kembali berputar bagaimana menyiapkan nilai dari sekian ratus lembar jawaban yang belum dikoreksi, dua mata pelajaran, belum lagi ada beberapa tugas siswa yang nilainya belum dimasukkan ke buku nilai, dalam waktu tiga hari. Sementara baru saja ketua tim menelpon bahwa ada kekurangan dalam buku yang baru disusun. Mataku terpaku pada tumpukan kertas jawaban. Tiba-tiba aku dapat ilham.

“Ade, sini nak…,mau nggak Ade bantu Ayah?”.

“Bantu apa Yah?”.

“Bantuin Ayah ngoreksi,bagaimana?”, anakku bontot inipun diam sejenak.

“Berapa gaji Ade kalau bantuin Ayah?”,mak….darahku tersirap mendengar pertanyaannya yang polos dan spontan.

“Emmm….boleh, nanti Ayah kasih gaji…”.

“Tapi berapa dulu gajinya”, desaknya.

“Perlembar seratus rupiah”, uminya nimbrung, rupanya dari tadi mengikuti pembicaraan kami.

“Ah…sedikit amat”.

Setelah aku memberi gambaran nominal yang bakal diterimanya bila mengoreksi semua lembar jawab yang berjumlah 410 lembar diapun setuju. Tentu saja aku ajukan syarat harus selesai sebelum maghrib. Setelah diadakan nego akhirnya disepakati jam 9 malam sudah selesai. Diapun berjanji akan konsentrasi mengoreksi dengan menghentikan sementara main game online kesukaannya. Aku mengajukan syarat bahwa pekerjaan harus selesai tepat waktu dan 2,5 persen dari gajinya harus dikeluarkan sebagai zakat. Diapun setuju.

Aku mencoba mereka-reka hikmah dibalik negosiasi tadi. Sikap profesionalitas yang ditandai dengan adanya biaya yang dikeluarkan (gaji) dan bentuk pelayanan (pekerjaan mengoreksi) harus seimbang dan diputuskan berdasarkan negosiasi yang fair antara pihak yang berkepentingan. Disamping itu jangan melupakan agar rezekinya bersih maka harus dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5%. Duh …anakku…

**

Waktupun berjalan. Pada siang hari Rifka hanya berhenti untuk makan dan shalat. Sore hari biasanya dia main bola, ketika kutengok dia masih asyik berkutat dengan pekerjaannya. Menjelang maghrib dia baru mandi. Setelah makan malam diapun kembali mengerjakan “proyek”nya. Menjelang jam 9 malam dia mulai menguap.

“Ngantuk Yah, gimana ni…Ade belum selesai….kalau belum selesai Ade jadi digaji nggak….?

Dia merajuk dengan muka serius sambil menahan kantuk. Aku kasihan melihatnya kecapekan tetapi diapun begitu khawatir kalau aku membatalkan gajinya.

“Ade janji deh, jam 9 besok pagi sudah kelar, gimana Yah…plisssss….Ade sueer deh….”, katanya sambil menunjukkan telunjuk dan jari tengahnya membentuk V. Tak tega aku melihatnya.

“Oke….Ayah setuju, nah sekarang shalat Isya terus tidur ya…”. Dia tampak gembira lalu bergegas ke kamar mandi.

**

Sebelum jam sembilan keesokan harinya dia menyetorkan sisa pekerjaannya. Akupun segera menghitung gajinya.

“Selembar kan gajinya Rp. 100,-, karena jumlah kertas jawabannya 410 lembar maka gajinya Rp. 41.000,-. Nih Ade terima….”, kataku sambil menyerahkan gajinya, tapi wajahnya kelihatan bimbang bukannya gembira.

“Emang Ayah punya uang? Bukannya kemarin buat bayar SPP kakak?”, memang benar sebagian sudah digunakan untuk bayar SPP kakaknya yang di pesantren.

“Tapi kan masih ada De…”, jawabku, padahal sebaliknya. Aku cuma ingin menepati janji kepadanya.

Ya udah, terus  berapa zakatnya?”. Ah iya, dia mengingatkanku.

“Zakatnya 2,5% dari Rp. 41.000,- jadi sebesar Rp. 1.025,-. Supaya mudah bulatkan aja Rp. 1.500,-“, terangku.

Kalau dua ribu boleh gak Yah, besok Ade masukkan di kotak amal Jum’atan?”.

“Itu lebih bagus”.

“Yah boleh nggak….Ade pinjam uang ayah seribu rupiah buat nambahin amal?” Maksudnya buat menambakah seribu rupiah yang diambil dari 41 ribu.

“Boleh saja”, akupun merogoh kantong dan menyerahakn selembar uang ribuan.

**

Sore harinya Rifka kembali mendatangiku dan dengan wajah gembira dia berujar,

“Ni Yah, Ade kembaliin uang Ayah yang seribu”.

“Nggak usah dikembaliin De, Ayah udah ikhlas ngasih ke Ade”.

“Tapi kan Ade kemarin bilangnya pinjam jadi harus dikembalikan dong…”, tangkisnya sambil mengangsurkan sekeping uang 500 rupiah, dua keping logam 200 rupiah dan satu keping uang 100 rupiah.

“Itu hasil jerih payah Ade lho, cari uang kesana kemari buat bayar utang ke Ayah”.

“Wah hebat De, dimana nemunya?”.

“Di celengan darurat, kan ini termasuk darurat lagian ngoreknya susah ”, jawabnya dengan polos. Celengan darurat berisi uang logam sisa belanja Uminya.

Segera kutangkupkan koran kemukaku untuk menahan tawa yang hampir meledak sambil pura-pura batuk sekerasnya. Aku kawatir Ade tersinggung dengan ketawaku.

“Terima kasih sayang, hutangnya sudah  lunas ya….,” segera kuraih badannya dan kucium dahinya.

Ah anakku….

***

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Rupa-rupa. Bookmark the permalink.

6 Responses to Dua Setengah Persen

  1. Payjo says:

    Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya Pak. Alhamdulillah anaknya sudah diajari tentang zakat sejak kecil, karena pendidikan dari Bapaknya🙂

  2. rofiq says:

    eee…ada tamu. Trimakasih mas Payjo, cuma mencoba mendidik sejak dini biar tertanam kuat..

  3. Budi Utama says:

    Senang banget rasanya punya anak kayak gitu ya pak..jadi motivasi saya untuk memperbaiki diri, biar kalo dititipkan Allah anak kelak bisa kayak gitu… thanks pak udah mau berbagi..

  4. Pak, saya udah baca ceritanya. Im so pleased🙂
    Pelajaran buat nanti ketika mendidik anak🙂
    Trimakasih toh pak😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s