Selamat Jalan


Tadi siang adikku yang paling bontot menelponku, tumben, kadingaren. Mungkin ada yang penting. Setelah saling bertanya kabar keluarga, dia menyampaikan inti berita, “Mas, Abah meninggal dunia”, aku kaget bagai mendengar petir di siang bolong. Ada tiga kali aku mengulang ketegasannya karena aku merasa tidak percaya atas berita yang baru saja kudengar. Abah adalah panggilan untuk adik iparku (alm) Achmad Hasuri Al Hafidz. Awalnya panggilan ini hanya berlaku untuk anak-anaknya, ya…keponakanku. Kemudian pemberlakuan itu diperluas di keluargaku. Siapapun menyebut ‘Abah’ yang dimaksud adalah adik iparku itu.

Sepanjang perjalananku ke rumah tubuhku lemas, bawa kendaraanpun gak konsen, padahal cuma bawa kendaraan yang rodanya cuma dua. Sampai di rumah tubuh terasa tidak berdaya. Aku menggelosor begitu saja di lantai sampai akhirnya tertidur sekitar setengah jam. Aku baru bangun ketika perut terasa keroncongan dan belum shalat dzuhur. Sebelum tertidur di lantai tadi pikiranku menerawang mengurai masa-masa dimana aku cukup intens komunikasi dengan Almarhum…

Pikiranku menerawang mulai dari 17 tahun lalu ketika dia datang untuk melamar adikku. Dia juga pernah mampir ke tempat kostku ketika aku masih kuliah di IAIN Jakarta, masih segar dalam ingatan dia membawakanku satu toples wafer stick. Ketika aku menikah dia datang dengan adikku untuk mewakili ayahku menyaksikan pernikahanku.

Berita selanjutnya berkisar pada persoalan keluarga. Ah… itu biasa dalam kehidupan rumah tangga. Siapapun dapat mengalaminya cuma berbeda kondisi saja. Ketika aku dan keluarga pulang kampung ke Purwokerto dia sering mengajak ngobrol seputar keilmuan dan dua tahun lalu dia sudah tertarik dengan dunia maya, almarhum mulai belajar bikin blog dan berdiskusi seputar dunia maya. Beberapa waktu kemudian dia memberitahuku bahwa dia sudah punya blog yaitu http://www.kibandosnyantri.blogspot.com/. Almarhum cukup produktif, tulisannya cukup beragam ada puisi, cerpen maupun letupan-letupan kesastraan lainnya. Kami saling bertukar link, walaupun belakangan aku jarang mengikuti perkembangan blognya.Sepanjang sore sampai malam ini aku aduk-aduk dan kubaca tulisan-tulisannya. Aku menyesal mengapa gak ada komunikasi yang intensif belakangan ini.

‘Menuju Islamisasi Paradigma Sains 3’ adalah posting terakhirnya, isinya cuma dua kalimat: “dengan demikian,…” no more sentences…, diposting tanggal 3 April 2010 jam 08.21, sekitar 3 jam sebelum Allah memanggilnya. Subhanallah…

Kutelusuri lagi blognya,tiga posting sebelumnya adalah “Maafkanlah” (31 Maret 2010), “Sebagai Ujian” dan “Tersenyumlah” (30 Maret 2010). Kubaca berulang-ulang isi ketiga posting terakhir itu. Seperti pesan terakhir, Almarhum mohon maaf atas segala kesalahan dan kekeliruannya kepada siapapun semasa hidupnya, bahwa kematian adalah kepastianNya dan itu “sebagai ujian” bagi yang ditinggalkannya. Ujian itu pasti akan berlalu, oleh karena itu tetap “Tersenyumlah”.

Ah…kini hanya kenangan. Dipelupuk mataku terbayang adikku, Alfiyah, tiga keponakanku, Uus (1 Aliyah), Wafa (6 SD), Qori (2 SD). Mereka akan menapak hari-hari ke depan tanpa kehadiran seorang ‘Abah’. Tiada lagi canda tawa, tiada lagi yang mengajak jalan-jalan sore sekedar berjalan di pematang sawah, tiada lagi seseorang yang menanyakan dan membantu mengerjakan PR, tiada lagi tempat merengek ketika mereka ingin bermanja. Subhanallah….

Ya Allah Ya Rabb, jadikanlah Almarhum mutiara di surgaMu, jadikan tahfidz Qurannya menjadi penuntunnya masuk ke surgaMu, jadikan doa mereka yang masih hidup sebagai penerang di kuburnya, jadikan derita hidupnya sebagai penebus adzabMu, jadikan keluarganya sebagai penyuplai amal kebaikannya, jauhkan keluarganya dari fitnah sepeninggalnya, bukalah hati mereka yang membencinya untuk mendoakannya dan bukalah kesadaranmereka bahwa orang yang mereka benci sekarang telah menjadi milikMu.

Terjawab sudah teka-teki satu hari lalu. Aku heran pada saat tahlilah malam Jumat di mushalla berulang kali aku menghafal tatacara shalat jenazah seperti anak SMP yang mau ujian praktek agama. Kuhapalkan kembali doa-doa yang dibaca setelah takbir. Setali tiga uang, istrikupun seharian itu merasakan kantuk yang tiada terkira.

Uus, Wafa dan Qori maafkan pakde yang belum hadir ketika pemakaman Abah kalian. Percayalah kami semua mengirimkan doa untuk Abah. Abah kalian menanti kita semua di sana …..lihatlah Abah tersenyum melihat keikhlasan kalian melepasn kepergiannya…

Allohummaghfirlahu warhamhu…

+++

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s