Kisah Dua Nasi Bungkus


Cerita ini kudapat ketika mengikuti sebuah pelatihan setahun yang lalu yang sebenarnya merupakan hasil eksperimen narsum (narasumber). Pak narsum membuat dua nasi bungkus yang isinya sama (nasi aja, gak pake lauk) kemudian dibungkus seperti biasanya, bungkus paling luar adalah plastic yang dipress sehingga kedap udara. Selanjutnya kedua nasi bungkus tersebut diletakkan di tempat yang berbeda, misalnya beda ruangan. Siapapun yang memasuki kedua ruangan itu diharuskan membaca kertas yang berada di samping nasi bungkus tersebut sesuai petunjuk.

Nasi bungkus yang pertama, sebut saja nasi bungkus A diletakkan di atas meja di sebuah ruangan. Disampingnya diletakkan selembar kertas yang harus dibaca dengan suara jelas oleh siapapun yang masuk ke ruangan itu. Kertas itu bertuliskan kalimat pujian dan kalimat positif lainnya dan harus  dibaca dengan senyum, penuh ketulusan dan kelembutan. Misalnya, kamu adalah makanan yang hebat, dibuat dari bahan terbaik, kamu akan menyehatkan siapapun yang memakanmu, kamu halal, dsb.

Nasbung B diletakkan di ruang yang berbeda, usahakan agak jauh dari nasbung A. Disampingnya diletakkan selembar kertas yang penuh caci-maki, sumpah serapah dan kalimat negative lainnya, misalnya kamu makanan yang payah, hanya menambah penyakit, seharusnya kamu sudah masuk tempat sampah, kamu haram! dll. Cara membacanyapun harus dengan nada tinggi, penuh kemarahan dan boleh membentak! Biarkan kedua nasi bungkus itu mendapat perlakuan seperti itu selama 4 hari.

Hari kelima….

(Pak narsum menayangkan gambar kondisi kedua nasbung itu setelah empat hari mendapat perlakuan yang berbeda). Setelah bungkusnya dibuka…..jreeeengngngng…..

Kondisi nasbung B : berbau sangat busuk, berair, berbelatung, berjamur.

Kondisi nasi bungkus A : sekalipun dalam hitungan normal seharusnya sudah membusuk, nasi bungkus A ini kondisinya relative lebih baik dibanding nasbung B.

Apa maksudnya?

Mari kita lihat dulu kondisi nasbung B. Mengapa dia sampai begitu busuk? Tidak lain karena kalimat-kalimat negative yang dialamatkan kepadanya dengan nada tinggi dan membentak pula, dan itu dilakukan oleh sekian banyak orang yang membacanya. Sehingga secara berulang-ulang (entah berapa kali) nasbung B menerima ‘kutukan’ itu. Kondisinya yang begitu hancur seharusnya ditunjukkan setelah 10 hari bila dibiarkan begitu saja.

Nasbung A kondisinya relative lebih baik daripada nasbung B juga karena kalimat-kalimat positif yang dialamatkan kepadanya dengan nada yang lembut dan penuh ketulusan. Perlakuan baik ini diterimanya berulang-ulang oleh sekian banyak orang. Kondisi ini seperti nasi yang dibiarkan selama 2 hari.

Kalau dilihat dari sisi ada atau tidaknya nyawa, nasi bungkus adalah benda mati, walaupun (mungkin) dia itu berjiwa. Jadi benda mati saja masih bisa kena efek bila diperlakukan baik atau buruk, apalagi yang hidup dan berjiwa…..

Itu nasi bungkus…sekali lagi NASI BUNGKUS…bagaimana jika manusia yang mendapat perlakuan seperti itu? Bagaimana jika orangtua atau pendidik atau siapa saja yang setiap hari berhadapan dengan manusia lain yang mana dia punya otoritas kepada orang lain itu mengulang-ulang kalimat negative kepadanya? Apalagi orang lain itu adalah ‘manusia kecil’ yang berujud anak-anak???????? Apa jadinya…..

Seringkali karena terdorong emosi, kita sebagai orangtua ataupun guru terlontar perlakuan yang melemahkan anak-anak kita. Perlakuan itu bisa berupa tutur kata, kalimat, kontak mata, bahasa tubuh, keluhan, raut muka, maupun sikap. Setelah melakukannya kita merasa puas.  Bisa jadi perlakuan tersebut diterima langsung secara kontan oleh anak-anak, bisa juga tidak langsung misalnya ketika ngobrol dengan teman  kita menceritakan kelamahan seorang siswa, sehingga secara tidak langsung ‘mengajak’ teman kita itu mengikuti jejak sikap kita kepada siswa yang dibicarakan itu. Lalu apa jadinya bila semua guru bersikap negative kepadanya? Dan setiap hari dia mendapat ‘kutukan’ dari orangtua atau dari gurunya? Perlakuan negative yang didapatkan seorang anak akan terekam kuat di benaknya dan akan teringat terus sampai tua. Percayalah, kalau tidak kuat hati nasibnya tidak jauh beda dengan nasbung B!

Tapi masih ada kesempatan. Perlakuan positif sangat menguatkan, yang bisa membuat nasbung A bertahan untuk tidak lebih busuk dari yang seharusnya. Perlakuan bisa berupa kata-kata, pujian, kontak mata, bahasa tubuh maupun sikap positif lainnya. Seorang anak (bahkan dewasa) sangat membutuhkan perlakuan yang menguatkan. Pujian yang proporsional akan menimbulkan kepercayaan diri, pengakuan akan menimbulkan keyakinan atas kemampuan, dorongan akan menjadi motivasi, kerjasama akan menimbulkan teamwork yang kuat, mendengarkan kata-katanya akan membangkitkan semangatnya untuk berpendapat. Apa beratnya memberikan senyum, acungan jempol, ucapan terimakasih, atau sekedar anggukan tanda pengakuan. Sikap-sikap tersebut memang ringan untuk dilakukan, akan tetapi menjadi lebih berat dibanding memindahkan sejumput kapas bila hati berat melakukannya. Hati yang sudah terkontaminasi mencap anak ‘bermasalah’ tersebut.

Siapa yang salah bila ada anak ‘bermasalah’? Bisa siapa saja. Tapi tidak perlu kita menuding orang lain bila ternyata 3 jari lainnya menunjuk balik ke diri kita . Marilah introspeksi, mungkin pendekatan kita tidak pas, terlalu frontal ataupun terlalu keras. Membengkokkan rotan ataupun besi dengan cara keras, langsung dibengkokkan akan berakibat fatal. Bukannya bengkok, alih-alih patah. Coba secara pelan-pelan sambil dipanaskan, pasti hasilnya bagus! Demikain pula untuk menyeberangi sungai yang deras kita tidak bisa potong langsung ke seberang. Ikuti dulu arusnya sambil mendayung ke tepian di seberang.

Demikian pula dengan anak-anak ataupun siswa kita yang kita anggap bermasalah tadi. Dengarkan dulu curhatnya, ikuti dulu apa maunya, selami jiwanya. Kalau sudah berhasil masuk barulah kita mulai mengalihkan kemauannya ke arah yang positif, tentu saja disertai dengan penguatan, motivasi dan kalimat positif. Bisa jadi dia cuma minta perhatian. Bila tidak memahami kemauannya, alih-alih kita menjadi pendorong yang menjerumuskannya berbuat lebih negative lagi karena stigma atau cap ‘anak bandel’ yang kita berikan. Ah, sekalian saja saya jadi anak bandel.

Memang berat, tapi itulah seni dan memang menjadi tugas kita sebagai orangtua maupun pendidik. Pernahkah kita menyadari bila sewaktu kecilpun kita seperti itu? Apakah sejak kecil kita tidak pernah merepotkan orangtua atau guru kita sehingga dengan sewenang-wenang kita marah kepada anak/siswa yang ‘bertingkah’??

Ah…sudahlah…..itu sudah menjadi hukum Tuhan. Semua berpasangan, ada orangtua pasti ada anak, ada guru ada murid. Kesulitan menjadikan kita kreatif, penderitaan menjadikan kita kuat dan perlakuan negatif yang kita terima akan semakin menyadarkan kita agar tidak berbuat seperti itu kepada orang lain.

Wah…udah jam 01.24. Laper nih…mana nasi bungkus….

Medio, 29 Maret 2010.

***

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Pendidikan. Bookmark the permalink.

3 Responses to Kisah Dua Nasi Bungkus

  1. igay says:

    good….good….good….

  2. anny hidayati says:

    waduuhh bagus banget, insyaA banyak manfaat yg diambil, manusia selalu saling membutuhkan bukan? smg aku bs menjadi contoh yg baik meskipun msh banyaaaakkk sekali kekurangan disana sini, intinya hrs dimulai dg keikhlasan ya pak? anyway, keep on…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s