Sidang Pansus Century di SMK Al Amanah


Sejak Seni Budaya menjadi salah satu mata diklat, siswa SMK seperti tidak berbeda dengan siswa SMA, sama-sama belajar Senbud, meskipun tampaknya tidak begitu begitu relevan dengan nuansa ‘sekolah kejuruan’. Mengapa bukan jam produktif yang ditambah? Sudahlah, itu masalah kebijakan departemen, toh kita tinggal melaksanakan. Siapa tahun mendatang kebijakan ini ditinjau lagi. Kita ambil sisi positifnya seperti membangun jiwa seni di kalangan siswa sehingga bila menjadi tenaga professional nantinya mereka kreatif.

Pada awal semester genap lalu, kepada siswa kelas XII diinstruksikan bahwa focus pelajaran Senbud semester genap berorientasi produk, artinya mereka harus menghasilkan produk seni. Setelah dipertimbangkan pilihan jatuh pada teater. Maka sejak saat itu mereka mulai mendapat materi teater mulai dari teori, manajemen, penyusunan naskah dan akhir proses ini adalah pementasan sebagai ujian praktek.

Bila dihitung-hitung sebenarnya waktu belajar mereka di semester genap tahun ini tergolong singkat. Cobalah hitung, minggu kedua Januari 2010 adalah awal semester genap, minggu ketiganya ujian pra kompetensi  dilanjutkan dengan try out UN, ujian kompetensi, ujian praktek, dst sehingga praktis hampir tidak ada waktu untuk berlatih. Sebagai guru saya khawatir bila sampai saatnya mereka belum siap ujian, berdasarkan kalender pelaksanaan ujian dilaksanakan pada minggu terakhir sebelum UN. Tetapi hati menjadi terhibur ketika sesekali memergoki beberapa kelas ‘mencuri’ waktu latihan di sekolah setelah mereka ujian atau setelah jam sekolah dan setiap hari mereka membawa naskah teater untuk dihapalkan atau sekedar memperlancar dialog.

Kelas XII Akuntansi dan XII Administrasi Perkantoran mendapat giliran pertama. Setiap kelas terdiri dari 3 – 4 kelompok, setiap kelompok mendapat jatah waktu 15 – 20 menit untuk pementasan.

Penampilan XII Akuntansi

Kelas XII Ak terdiri dari 4 kelompok dengan judul sebagai berikut :

–          Kelompok 1 : Perpisahan Terindah,

–          Kelompok 2 : Uuups…Sorry,

–          Kelompok 3 : Tragedi Ospek,

–          Kelompok 4 : Niken ‘n The Genk.

Kelompok 1 menampilkan cerita sekitar detik-detik akhir di kelas XII, mulai dari perjuangan dalam menghadapi UN dan US sampai pada kegembiraan ketika mereka berhasil lulus ujian. Cerita dikemas dalam kultur Betawi tidak lupa dengan bumbu-bumbu romantis a la remaja masa kini. Sosok bu Ida menjadi guru yang bijak selalu memberi arahan pada siswanya yang akan mengadakan perpisahan. Pada cerita tersebut saat perpisahan menjadi saat yang membahagiakan karena mereka akan menuju masa depan yang cerah penuh harapan.

Nuansa pergaulan remaja menjadi tema kelompok 2. Cerita berkisar pada sikap playboy tokoh Jamal. Dia berusaha mendekati Ersih dengan segala rayuan gombalnya. Seperti biasa playboy cap botol kecap ini selalu berusaha menyembunyikan ‘belangnya’ dimata Umi, kekasihnya. Tetapi dia tidak bisa menyangkal ketika kekasihnya menemukan bukti yang sah dan meyakinkan berupa rekaman video Jamal saat merayu Ersih, hasil rekaman Puspa. Kejadian ini kebetulan dipergoki Puspa sahabat Umi.

Kehidupan mahasiswa sebagai insan kampus diawali dengan orientasi atau ospek. Tidak jarang kegiatan ini menjadi ajang unjuk kekuasaan dan balas dendam segelintir manusia yang menamakan dirinya ‘senior’. Mereka selalu menuntut untuk dihormati dan  dilayani semata-mata untuk menutupi kekurangan yang dimiliki. Akibat dari nuansa ospek yang seperti itu banyak menimbulkan tindak kekerasan. Kelompok 3 menampilkan cerita tentang berubahnya nuansa ospek setelah terjadi kecelakaan pada ‘yunior’ di sebuah kampus.

Kelompok 4 mengangkat kisah tentang ‘insyaf’nya sebuah genk. Sekalipun anggotanya perempuan semua, genk yang dipimpin Niken ini  selalu menjadi momok sekolahnya. Tetapi akhirnya mereka menyadari kekeliruannya setelah Meisya salah satu anggotanya ditolong oleh Bayu, seorang murid baru di sekolahnya. Pada awalnya mereka suka mengganggu Bayu murid pindahan dari Yogya dengan memanfaatkan keluguannya. Rukmini yang ternyata adalah teman Bayu sewaktu kecil selalu tampil sebagai pahlawan yang menolong Bayu dari kejahilan Niken dkk. Hingga akhirnya Meisya dijambret di sebuah tempat, tanpa sengaja Bayu melihat kejadian itu dan berhasl melumpuhkan penjambret. Dengan menampilkan sosok bu Bertha, dengan logat Bataknya bu guru ini berhasil menjadi bumbu penyedap kelompok ini.

Penampilan XII Administrasi Perkantoran

Kelas XII AP sangat berbeda dengan kelas lainnya, kalau kelas lain terdiri dari laki-laki dan perempuan, kelas ini full perempuan semua sehingga merekapun merekayasa agar semua tokoh perempuan. Kelas ini dibagi menjadi tiga kelompok dengan judul sebagai berikut :

–          Kelompok 1 : Kisah tak Terlupakan di Akhir Sekolah,

–          Kelompok 2 : Perjuangan Menuju UN,

–          Kelompok 3 : Skandal Bank Century.

Kelompok 1 mengangkat cerita seputar kisah di akhir kehidupan sekolah menengah. Tokoh yang ditampilkan cukup ‘bhinneka tunggal ika’ seperti Chaty yang tampil dengan Jawanya yang lugu, Media dengan lagak Betawinya. Sosok bu Niniek yang judes menjadi sosok yang berwibawa dan tegas, terbukti beberapa siswi yang dihukum membersihkan WC karena tidak mengerjakan PR. Sekalipun demikian mereka kompak melaksanakan tugas diskusi yang diberikan sewaktu bu Niniek berhalangan hadir.

Setali tiga uang, nuansa tampilan kelompok 2 hampir sama dengan kelompok 1 yakni berkisar sekitar UN. Kelompok 2 menampilkan cerita bersetting kehidupan kelas dengan segala romantikanya. Guru piket yang ditokohkan sebagai sosok yang judes menjadi pengendali cerita. Sekalipun demikian perjuangan ‘menaklukkan’ UN tetap berjalan yang akhirnya membuahkan hasil yang menggembirakan. Pertunjukkan ditutup dengan upacara perpisahan, terimakasih guru.

Nuansa berbeda ditampilkan kelompok 3. Mereka mengusung berita terpanas saat ini, skandal bank Century. Lagi-lagi mereka harus mensetting tokohnya menjadi perempuan, semua tokoh laki-laki diubah menjadi perempuan dengan menambahkan ‘bu’ seperti bu Marzuki Ali, bu Anis Matta, dsb, kecuali Budiana. Seperti tampilan pansus yang sesungguhnya, mereka menempat­kan Sri Mulyani dan Budiana sebagai ‘terperiksa’. Tidak lupa mereka menampilkan teriakan “huuuu…” dan keributan yang terjadi di persidangan plus penyiraman aqua ke bu Marzuki Ali sang pemimpin sidang.

(masih ada sambungannya, XII RPL dan XII Pj belum kan..?)

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Seni Budaya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s