Pelatihan Model Pembelajaran di Batam


Tampak dua orang sedang menunggu pembagian kunci surga. Mereka adalah Dolah, seorang sopir angkot dan Amin seorang guru agama. Dalam benaknya, masing-masing mereka-reka seperti apakah kunci surga yang hendak diterima.

“Dolah! Kemari kau. Terimalah kunci surgamu!” malaikat memanggil Dolah.

“Baik Paduka,” jawab Dolah dengan sopan. Ditangannya kini tergenggam sebuah kunci hampir setinggi badannya dan terbuat dari emas murni.

Amin menjadi salah tingkah. Telapak tangannya digosok-gosok sambil senyum-senyum. Dolah yang supir angkot saja terima kunci yang sebegitu besarnya, apalagi saya seorang guru agama yang setiap Jumat berkhutbah, pengajian setiap malam dan sudah bersertifikat lagi, demikian pikirnya. Pasti kunciku lebih besar lagi.

“Amin! Kemari kau!” panggilan malaikat membuyarkan lamunannya. “Terimalah kunci surgamu!”

Kunci surga diterimanya dengan penuh tanda tanya. Betapa tidak, kuncinya hanya sebesar kelingking bayi. Amin merasa tidak puas.

“E…maaf Paduka. Mungkin Paduka ada kekeliruan…?”

“Lho kenapa keliru?”, tanya malaikat.

“Kunci saya…mengapa hanya sebesar kelingking bayi. Dolah saja yang supir angkot kuncinya besar. Apalagi saya yang guru agama. Tentunya lebih besar lagi, Paduka”, demikian Amin mengajukan protes.

“Ketahuilah Amin. Memang benar engkau adalah guru agama. Tidakkah engkau ingat berapa banyak muridmu yang tertidur ketika engkau mengajar?”

“Eee…hampir separoh kelas, Paduka….,” Aminpun teringat saat dia mengajar, murid lainnya lainnya bermain atau mengobrol.

Dolah hanya tersenyum. Dia ingat kalau sedang narik angkot. Biarpun setoran jarang penuh, tapi dia selalu dapat membuat penumpangnya berdzikir sepanjang perjalanan, sport jantung karena ugal-ugalan…

Ahh…just kidding…

Mengajar bagi sebagian orang mungkin cukup hanya menjelaskan materi di depan kelas, catat lalu PR atau apalah yang lain. Yang penting pengetahuan berpindah ke otak siswa. Okelah untuk 30 tahun yang lalu hal itu masih ok. Tidak cukup hanya demikian, mengajar adalah sebuah seni yang menuntut pengajar selalu kreatif dalam prosesnya. Pembelajaran tidak cukup hanya melihat hasil, tetapi prosespun harus diperhatikan. Karena proses dapat menentukan hasil, akan menjadi seperti apa. Itulah perlunya memahami berbagai metode pembelajaran.

Tanggal 23 Pebruari 2010 MGMP PAI SMP Kota Batam mengundangku untuk berbagi metode pembelajaran PAI berbasis ICT. Bertempat di hotel PIH Batam sejumlah 85 peserta sangat antusias mengikuti kegiatan. Mereka bukan hanya berasal dari kota Batam tapi ada beberapa orang yang berasal dari pulau-pulau sekitar Batam. Jumlahnyapun membludak dari target semula yang hanya 70 orang. Artinya, teman-teman amat haus dengan perkembangan terbaru di dunia pendidikan. Bahkan ada beberapa orang yang berasal dari SMK dan MI, dan MGMP/KKG mereka berminat mengadakan kegiatan serupa.

Perkembangan teknologi khususnya ICT telah pula merasuk ke dunia pendidikan. Dengan keunikannya sendiri ICT dapat digunakan untuk mengefektifkan proses belajar. Konsepnya sederhana, yakni dengan mengoptimalkan perangkat presentasi pada MS Office (Powerpoint), kita menyajikan materi pembelajaran kepada siswa. Sejak pelatihan di Bandung tahun lalu, saya membiasakan diri menggunakan MS Office 2007. Selain kaya dengan model tampilan, juga mudah dalam pembuatan dan operasionalnya, karena tidak jauh beda dengan MS Office 2003.

Acara dibuka oleh Kabid Mapenda Kantor Kementrian Agama Kota Batam. Saya mendapat giliran pertama presentasi model pembelajaran non ICT. Karena alokasi waktu yang terbatas, saya hanya bisa menyajikan satu model secara penuh dan beberapa model secara teori serta diskusi tentang permasalahan yang sering dihadapi dalam pemanfaatan model pembelajaran.

Sebenarnya ada banyak model pembelajaran yang dapat digunakan, apalagi kalau rajin mencarinya di dunia maya, kita bisa mendapatkan ratusan model. Intinya bukan pada banyaknya, tetapi seberapa efektif model yang digunakan dapat menjadikan proses pembelajaran berlangsung pebuh makna. Oleh karena itu dalam pemilihan model pembelajaran setidaknya mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

1. Kecocokan dengan SK/KD,

2. Penguasaan guru mengoperasionalkan model yang digunakan,

3. Pertimbangan dengan alokasi waktu yang tersedia,

4. Variasi model, artinya jangan monoton menggunakan model pembelajaran tertentu,

5. Bisa saja mengkombinasikan beberapa model,

6. Jangan bosan berinovasi untuk menciptakan model pembelajaran sendiri,

7. Bila menemukan adanya perbaikan hasil belajar siswa setelah menggunakan model pembelajaran tertentu jangan ragu-ragu untuk dibuktikan secara ilmiah,

8. Yakinlah masih banyak teman guru yang sangat menantikan model yang anda gunakan, maka berbagilah.

Karena di dalam ruangan laptop sudah terpasang dan di lantaipun kabel centang-perenang, maka peserta kugiring keluar ruangan untuk mempraktekkan model ‘Students facilitator and explaining’. Dengan antusias peserta mempraktekkan model tersebut. Model ini memungkinkan siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran, guru cukup menjadi fasilitator dan timer. Jangan lupa untuk mengulasnya dengan tujuan menyamakan persepsi siswa tentang pelajaran yang disajikan.

Model ini cocok untuk SK/KD yang bersifat teori atau yang membutuhkan penjelasan. Sebaiknya materi terdiri dari beberapa sub materi, misalnya 4 sub materi.

Langkah-langkah :

1. Siswa dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing menentukan ketua kelompok, 2 penulis dan 2 presenter. Penulis     bertugas membuat bahan presentasi untuk 2 presenter. Presenter bertugas menyampaikan penjelasan materi kepada kelompok lain secara bergantian.

2. Setiap kelompok berdiskusi selama 15 menit untuk merumuskan bahan presentasi sesuai tugas dari guru.

3. Presenter berkunjung ke kelompok lain, waktu presentasi maksimal 8 menit sudah termasuk menjawab pertanyaan. Pergantian presenter ditentukan oleh guru dengan tanda tertentu, misalnya dengan bunyi peluit atau tepuk tangan. -Putaran 1, presenter kelompok I pindah ke kelompok II, presenter kelompok II pindah ke kelompok III, dst.

-Putaran 2, presenter pindah ke kelompok berikutnya, demikian seterusnya sampai semua kelompok dikunjungi oleh semua presenter masing-masing kelompok.

3. Guru memberikan ulasan, menjawab pertanyaan yang belum terjawab dan memberikan evaluasi. Akan lebih baik bila diadakan presenter terbaik berdasarkan pilihan siswa, tulis namanya di papan informasi kelas.

Apakah tidak menghabiskan waktu? Lihatlah alokasi berikut ini dengan asumsi waktu penyajian 2 jampel @ 40 menit, sehingga waktunya adalah 80 menit:

– Apersepsi : 10 menit

– Penjelasan aturan main : 10 menit

– Diskusi kelompok : 15 menit

– Putaran presentasi : 3 x 8 menit = 24 menit

– Kesimpulan, tanyajawab, evaluasi : 21

Sesi kedua pak Muhammad Ahsan mempresentasikan pembuatan desain Powerpoint untuk pembelajaran. Pada sesi ini peserta diajarkan membuat tampilan pada slide master, teks, template, animasi, triger, dan menyisipkan musik/video. Semua peserta siap dengan laptopnya dan menyimak serta mempraktekkan langsung arahan narasumber. Pada sesi ini saya terpaksa lari kesana-kemari dibantu pak Rizal untuk membantu teman-teman.

Pukul 17.00 pelatihan berakhir dengan membawa beribu kesan yang dapat dipraktekkan dalam pembelajaran. Bravo GPAI Kota Batam.

***

About rofiquez

Berkelana untuk mendapatkan hikmah
This entry was posted in Pendidikan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s